Senin, 15 Maret 2010 14:17 WIB Travel Share :

Menara langgar legendaris itu disambar petir

Umumnya nama masjid, langgar atau musala menggunakan bahasa Arab. Namun tidak demikian dengan musala di Laweyan yang dibangun 68 tahun silam ini. Warga akrab menyebutnya sebagai Langgar Merdeka.

Hal ini, tutur Ketua Yayasan Langgar Merdeka Kampoeng Batik Laweyan, Zulfikar Husain, karena saat itu sedang euforia kemerdekaan. Namun, empat tahun seusai diresmikan, namanya berganti menjadi Langgar Ikhlas.

”Itu permintaan penjajah Belanda. Bila namanya tidak diganti, akan dibom,” katanya. Meski namanya diganti, warga sudah akrab dengan nama Langgar Merdeka, hingga sekarang.

Namun kini kondisi langgar tersebut kini cukup memprihatinkan. Terlebih menara berlantai lima yang dimiliki, Selasa (9/3) petang, tersambar petir. Akibatnya, tiga sisi atap menara rusak berat dan sejumlah atap lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang.

Akibat petir itu, kerugian ditaksir Rp 17 juta. Zulfikar mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Langgar ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya di kawasan Laweyan.

”Ini bisa diartikan sebagai peringatan kepada kita, bahwa rumah Allah ini telah rusak dan butuh perhatian dari semua kalangan,” katanya. Saat ini, katanya, memang sedang dilakukan renovasi atas langgar ini sejak tujuh pekan lalu.

Dua lantai
Renovasi ini diperkirakan membutuhkan dana Rp 110 juta, sedang dana yang terkumpul dari swadaya masyarakat Laweyan baru sekitar Rp 47 juta. ”Langgar Merdeka ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, semestinya pemerintah juga turut andil dalam renovasi ini,” tambahnya.

Langgar yang didirikan sebelum masa kemerdekaan ini memiliki dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk tempat tinggal penjaga (takmir) dan aktivitas ekonomi. Sedang lantai dua untuk beribadah. Juga terdapat menara yang diperkirakan setinggi lima lantai. Cukup sulit untuk mencapai puncak menara. Ada empat tangga dengan kemiringan yang tajam yang harus dilewati.

Susunan anak tangga yang rapat juga membuat langkah menjadi sulit. Namun pemandangan yang dapat dilihat dari puncak menara sangat indah. ”Menara ini memang seukuran lima lantai, namun sebanding dengan tujuh lantai pada bangunan yang ada di pusat kota. Ini karena tanah di sini lebih tinggi tujuh meter dari kota Solo,” tandasnya. Ahmad Hartanto

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…