Minggu, 14 Maret 2010 21:33 WIB Kesehatan Share :

Memuaskan wanita, dicari pria

Entah ini ada hubungannya dengan emansipasi atau tidak, yang jelas dibandingkan dengan alat bantu seks (sex toys) untuk pria, variasi sex toys bagi wanita jauh lebih banyak. Mulai dari dildo (penis buatan-red) berbagai ukuran, ring penis aneka bentuk, vibrator hingga kondom dengan variasi gerigi di permukaannya dan kondom dengan rasa buah. “Kebanyakan sex toys memang ditujukan untuk memuaskan wanita, walaupun penggunaannya bisa dengan bantuan pria pasangannya,” jelas dr Tatuk Himawan dari RS Kasih Ibu.

Meski begitu, wanita pengguna alat bantu seks di Indonesia dinilai masih kalah banyak ketimbang wanita pengguna sex toys di negara-negara barat. Tatuk menduga, hal tersebut tak lepas dari nilai-nilai ketimuran yang dianut sebagian besar wanita Indonesia yang mengganggap alat bantu seks sebagai sesuatu yang tabu.

Ditilik dari karakter seksual wanita dalam berhubungan intim, sebenarnya wajar saja apabila varian alat bantu yang dibutuhkan lebih banyak ketimbang pria. Banyak penelitian menyebutkan, wanita memerlukan waktu relatif lebih lama untuk mencapai orgasme, bahkan banyak wanita yang mengaku tidak pernah merasakan orgasme selama hidupnya. Berbeda dengan pria yang relatif lebih mudah mencapai klimaks.

Itu sebabnya, dalam berhubungan intim, wanita memerlukan waktu lebih lama untuk melakukan foreplay. Nah, alat bantu seks bisa dimanfaatkan pada sesi ini. “Sebenarnya alat bantu seks seperti kondom bergerigi atau ring penis itu tidak memiliki dampak langsung pada kepuasan pria, walau ia yang memakai. Alat itu justru memberi sensasi pada wanita, pria hanya ikut terpuaskan apabila ia melihat pasangannya puas,” jelas Tatuk.

Kebanggaan lantaran berhasil menyenangkan pasangan itulah yang pada gilirannya dirasakan sebagai sensasi tersendiri bagi pria. Tak heran apabila alat-alat seperti ini justru lebih banyak diburu oleh pria. Tak cukup dengan menggunakan alat bantu seks seperti ring penis, beberapa pria bahkan rela menanamkan gotri di alat kelaminnya demi memuaskan pasangan.

Tatuk sendiri mengaku kerap menemui kasus semacam itu dalam karir kedokterannya, namun ia mengaku tidak sepakat dengan tindakan tersebut. “Menanam gotri pada lapisan kulit penis lebih rawan terhadap infeksi. Bayangkan bila gotri dibuat dari bahan yang kurang baik lantas berkarat dan menimbulkan infeksi di dalam. Risikonya besar!” kata dia.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTURINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…