Minggu, 14 Maret 2010 21:38 WIB Kesehatan Share :

Alat bantu seks, aman atau tidak?

Seks dalam pernikahan, ibarat garam dalam masakan. Tanpa seks, kehidupan pernikahan boleh jadi terasa hambar. Sebaliknya seks kerap dipercaya sebagai resep jitu yang menjamin kehidupan pernikahan bahagia dan harmonis.

Namun, seperti juga gelombang di laut, kehidupan seks dalam pernikahan bisa mengalami pasang-surut. Pasangan suami-istri juga rentan terjebak dalam kehidupan seks yang membosankan. Akibatnya, kehidupan pernikahan yang tadinya hangat pun mulai mendingin hingga akhirnya membeku dan terasa hambar dijalani.

“Di awal pernikahan, seks memang terasa luar biasa, tapi lama kelamaan, seks bisa jadi hanya sekadar rutinitas. Hal ini potensial terjadi dalam setiap pernikahan,” ungkap dr Istar Yuliadi, Kepala Pusat Studi Kesehatan Seksual LPPM Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dalam perbincangan dengan Espos, beberapa waktu lalu.

Supaya tidak bosan, lanjut Istar, pasangan suami-istri perlu kreatif menciptakan variasi dalam kehidupan seks mereka. Salah satunya dengan memanfaatkan alat bantu seks (sex toys), yang banyak beredar di pasaran. Ada alat bantu seks untuk pria, ada alat bantu untuk wanita, ada pula yang bisa digunakan oleh pria ataupun wanita.
Untuk pria, alat bantu seks dapat berupa vagina buatan dari bahan karet silikon yang lembut. Konon, alat bantu itu memang dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai vagina wanita asli, termasuk dengan kemampuan getar.

Ukuran alat bantu ini tak terlalu besar, sehingga mudah dibawa bepergian. Kalau itu belum cukup memberi variasi, ada pula alat bantu seks pria berupa boneka berukuran wanita normal dengan anatomi tubuh yang nyaris lengkap, dengan payudara dan vagina, terbuat dari perpaduan lateks dan silikon.

“Biasanya, boneka semacam itu bisa dilipat sehingga mudah dibawa bepergian. Untuk pria yang sering menghabiskan waktu di luar rumah seperti pelaut, ini bisa jadi solusi yang lebih baik untuk memuaskan hasrat seksual, ketimbang selingkuh,” kata Istar. Untuk wanita, konon variasi alat bantu seksual yang dipakai lebih beragam. Mulai dari dildo, berupa penis buatan berbahan jelly silikon yang lembut, kondom bergerigi, vibrator, hingga ring penis.

Uniknya lagi, dildo tidak hanya dibuat dalam bentuk penis berbagai ukuran, tetapi juga dirancang berbentuk buah dan sayur seperti bentuk pisang, pare, dan jagung. Tentu saja lengkap dengan kemampuan getar yang biasa disesuaikan dengan keinginan dan kepala penis yang bisa berputar.

Aman jika bersih
Pertanyaan selanjutnya, seberapa aman penggunaan alat bantu seksual bagi kesehatan? Istar mengatakan, selama terbuat dari bahan yang aman bagi tubuh dan terjaga kebersihannya, maka penggunaan alat bantu seks dapat dikategorikan aman bagi kesehatan.

“Selama terbuat dari bahan yang aman, bersih dan digunakan dengan cara benar seharusnya tidak masalah,” terang dia. Karena itu, disarankannya memilih alat bantu seks dari bahan yang lembut seperti silikon dan memiliki jaminan kesehatan dari pabrik pembuatnya.

Alat bantu seks yang ilegal sering kali dibuat dari bahan yang kurang aman, bahkan sebagian juga diberi cat yang bisa berakibat buruk bagi tubuh. Parahnya lagi, alat bantu seks ilegal semacam itu jauh lebih mudah didapati ketimbang alat bantu legal. Harganya pun konon lebih murah. Vibrator atau dildo berkualitas baik biasanya dibanderol dengan harga Rp 500.000-an. Namun vibrator ilegal bisa dijual di bawah harga tersebut.

Penetratif lebih berisiko

Perlu pula senantiasa diingat, alat bantu seks yang bersifat penetratif atau dimasukkan ke dalam tubuh —seperti dildo— pada umumnya memiliki risiko yang lebih besar ketimbang alat bantu yang hanya dipakai di bagian terluar tubuh. Oleh karena itu, penyimpanan dan kebersihannya harus ekstra ketimbang alat bantu nonpenetratif.
Hal lain yang juga penting diperhatikan dalam pemakaian alat bantu seks adalah faktor psikis kedua pasangan. “Jangan sampai jadi ketergantungan dengan alat bantu sehingga mengenyampingkan peran pasangan. Bagaimanapun, alat bantu hanya untuk memberi variasi dalam hubungan,” tegas Istar lagi.

Masalah psikis ini tentu juga jadi bagian penting. Itu sebabnya, pemakaian alat bantu seks dalam hubungan sepatutnya dilakukan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. Pasalnya, tak sedikit suami atau istri yang tersinggung apabila pasangannya menggunakan alat bantu meskipun dengan alasan untuk variasi dalam berhubungan intim.

Menurut Istar, beberapa orang secara psikis akan merasa tersaingi oleh alat bantu seksual. Situasi ini juga bisa berdampak buruk bagi hubungan suami isteri. Oleh sebab itu, jalan yang terbaik adalah dengan mengompromikan penggunaan alat bantu seks tersebut dengan pasangan. Lebih baik lagi jika pasangan ikut andil dengan membantu pemanfaatan alat bantu, misalnya saja dengan mencari area sensitif pasangan dengan vibrator.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

KUALIFIKASI PIALA ASIA U-19
Menuju Korea, Timnas Bakal Adaptasi Cuaca

Kualifikasi Piala Asia U-19 bakal diikuti Timnas Indonesia. Solopos.com, CIKARANG – Timnas Indonesia U-19 akan melakoni ajang kualifikasi Piala Asia U-19 2018 di Korea Selatan (Korsel). Mereka pun melakukan berbagai persiapan demi meraih hasil positif di fase tersebut. Babak kualifikasi…