Sabtu, 13 Maret 2010 12:29 WIB Ah Tenane Share :

Salah harga

Jon Koplo, seorang detailer obat-obatan yang tinggal di Walang, Bendosari, Sukoharjo, sore itu sepulang kerja mampir di mobil penjual roti keliling yang mangkal di Jl Jenderal Sudirman. Ia bermaksud membelikan oleh-oleh buat anaknya.
Setelah memilih-milih, akhirnya Koplo memutuskan untuk membeli roti pisang yang di stiker harganya tertera angka Rp 400. Koplo sendiri heran, roti pisang dari bakery top markotop kok harganya semurah itu?
”Wah, sepertinya lagi ada promosi nih,” batin Koplo. Tanpa pikir panjang, Koplo pun memesan 10 biji kepada Gendhuk Nicole, penjual roti itu. Setelah dibungkus kardus, Nicole menyebutkan nominal uang yang harus dibayar.
”Jadi semuanya Rp 40.000, Pak,” kata Nicole yang membuat Koplo mlenggong. Maklum, saat itu Koplo hanya bawa duit Rp 10.000.
”Lho Mbak, harganya kan Rp 400 per biji?” protes Koplo.
Nicole pun kembali membongkar roti dalam kardus. Setelah diperlihatkan stiker harganya, Koplo langsung abang ireng kisinan. sebab, harga sebenarnya adalah Rp 4.000 per biji. Rupanya angka nol yang terakhir tercetak samar-samar sehingga tidak begitu kelihatan.
Buat tamba isin, akhirnya Koplo membeli dua biji saja.  Kiriman Yogyantara Abisatya Putra, SMP Negeri 2 Sukoharjo, Jl Veteran, Sukoharjo.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…