Rabu, 10 Maret 2010 21:55 WIB Wonogiri Share :

Tak terima nama dicatut untuk pemerasan, kalangan LSM lapor polisi

Wonogiri (Espos)–Sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Kabupaten Wonogiri, Rabu (10/3) kemarin, melapor ke Kepolisian Resor (Polres) setempat berkaitan penyebutan lembaga mereka oleh seorang aknum pegawai negeri sipil (PNS) yang diduga memeras pejabat Dinas Pendidikan Wonogiri.

Pantauan Espos, ada sekitar enam aktivis dari empat LSM yang datang ke Mapolres Wonogiri untuk menyampaikan laporan. Mereka adalah Kenthut Suryatno dan Adi Budiyanto alias Gondhes dari LSM Putra Perwira Bangun Bangsa (PPBB), Triyono Raharjo dan Meriyanto dari LSM Gagasan Anak Negeri (GAN), Cahyo Priyanto dari LSM Cahaya Hati Rakyat (CHR), dan Hartono dari LSM Jeritan Rakyat (Jerat). Mereka diterima oleh Kepala SPK Polres Wonogiri, Yoto.

Mewakili rekan-rekannya, Kenthut Suryatno mengungkapkan, kalangan LSM sudah dibuat resah dengan penyebutan LSM sebagai alat untuk tindakan pemerasan yang dilakukan oknum PNS tersebut. Mereka tidak terima jika LSM disebut-sebut karena pada kenyataannya mereka tidak tahu menahu permasalahan yang menjadi dasar pemerasan tersebut.

“Kami sangat menyesalkan penyebutan LSM oleh pelaku pemerasan itu. Pelaku meminta uang kepada pejabat Disdik dengan alasan untuk menutup mulut LSM agar tidak menyebarluaskan masalah yang dialami pejabat tersebut. Padahal kami sendiri tidak tahu menahu apa masalah yang dimaksud,” jelas Kenthut, saat ditemui wartawan seusai menyampaikan laporan.

Selain ke kepolisian, Kenthut mengatakan, pihaknya juga berniat melaporkan kasus itu ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonogiri sebagai bentuk pengawalan karena menurut mereka kasus itu sudah masuk ke ranah korupsi. Dia berharap kasus itu segera diusut dan pelakunya, jika memang terbukti, diproses sesuai hukum yang berlaku.

Ditambahkan Triyono, penyebutan LSM dalam dugaan pemerasan itu telah mencoreng LSM sebagai lembaga masyarakat.

“Apalagi di saat sekarang, di mana kami sedang berusaha membangun citra positif di masyarakat,” jelasnya.

Dugaan pemerasan terhadap pejabat Disdik Wonogiri, Sp, dan salah satu bawahannya, berdasarkan pemberitaan di sejumlah media massa beberapa hari terakhir dilakukan oleh oknum staf di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Wonogiri berinisial AEP.

Dalam aksi pemerasan yang dilakukan melalui telepon itu, pelaku meminta uang senilai Rp 1 miliar kepada Sp. Pelaku mengaku tahu hubungan dekat Sp dengan salah satu staf bawahannya dan jika permintaannya tidak dipenuhi, pelaku akan menyebarluaskan hal tersebut.

shs

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…