Rabu, 10 Maret 2010 21:48 WIB Sukoharjo Share :

Istri Dulmatin enggan berkomentar atas tewas suaminya

Sukoharjo (Espos)–Isteri tersangka teroris Dulmatin, Istiadah belum bersedia memberikan pernyataan terkait tewasnya suaminya dalam penyergapan di Pamulang, Tangerang, Banten.

Dalam kesempatan itu, Istiadah yang kini menetap bersama anak-anaknya di sebuah rumah di RT 01/RW VII Dukuh Tulakan, Desa Godog, Polokarto tersebut juga tidak bersedia ditemui secara langsung.
Kepada wartawan yang datang ke rumahnya, Istiadah hanya bersedia berbicara dari balik pintu.

“Semua informasi dan pernyataan akan disampaikan langsung oleh adik saya di Pemalang. Saya tidak menerima tamu,” ujarnya, Rabu (10/3).
Terkait peristiwa penyergapan yang dilakukan Densus 88 Anti Teror Mabes Polri yang mengakibatkan tewasnya suaminya, ibu beranak enam ini mengaku belum yakin dan memasrahkan semunya pada Allah.

“Kalau masalah itu Wallahu Alam, saya no coment,” katanya.

Sementara ketika didesak kapan terakhir kali dirinya bertemu Dulmatin, Istiadah juga tidak bersedia menjawab. “Saya sedang masak, sekali lagi saya tidak menerima tamu,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab, Ustad Shoimin meluruskan, selama ini Istiadah bukan pengajar maupun pengurus di Ponpes yang diasuhnya seperti yang diberitakan berbagai media. Hanya saja, dia mengakui Istiadah merupakan wali murid Ponpes lantaran keempat anaknya menjadi santri di Ponpesnya.

“Saya tahu kabar tentang hal itu dari koran. Tapi perlu saya tegaskan Istiadah bukan guru ataupun karyawan di Ponpes ini, hanya anak-anaknya saja yang nyantri dan bersekolah di sini,” katanya.

Shoimin menjelaskan, saat ini Istiadah dan anak-anaknya telah menetap di Dukuh Tulakan, Desa Godog sejak sekitar satu bulan terakhir. Dia menempati rumah yang baru dibangunnya di atas tanah seluas 100 meter persegi.

“Mungkin karena ingin dekat dengan anak-anaknya, dia akhirnya membeli tanah dan membangun rumah di sini, sekarang sudah ditempati sekitar satu bulan, tapi dari enam anaknya hanya empat yang pesantren di sini ada yang sudah MTs dan baru MI,” ujarnya.

Sementara terkait keberadaan Zakiah Djarajat atau yang lebih dikenal dengan isteri Imam Samudra, Shoimin mengakui keberadaan Zakiah yang kini menjadi pengajar di Ponpesnya.

“Meski begitu, Ponpes kami ini pada dasarnya Ponpes umum tidak ada kaitannya dengan teroris,” katanya.

Di sisi lain, berdasar keterangan yang dihimpun Espos, saat ini Istiadah tengah mengajukan perubahan status kependudukan dari warga Kebondalem, Pemalang menjadi warga Dukuh Tulakan, Desa Polokarto kepada Kepala Dusun Tulakan, Marzuki.

Hanya saja lantaran berkas pindah kependudukannya belum lengkap, saat ini Istiadah belum memiliki kartu tanda penduduk (KTP) warga Sukoharjo.

Sementara dalam surat nikah yang dilampirkan saat mengajukan perubahan status kependudukan, menurut Marzuki, Istiadah dinikahi oleh seorang pria bernama Ammar Usman pada tahun 1995 yang dicatat oleh KUA Pemalang, namun sayangnya dalam foto copy tersebut tidak ada foto kedua pasangan suami isteri tersebut.

ufi

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…