Senin, 8 Maret 2010 21:46 WIB Kesehatan Share :

Vaksinasi HPV dirasa mahal, biasakan hidup sehat

Pap smear hanya mungkin dilakukan oleh wanita yang telah melakukan hubungan seksual. Lantas bagaimana cara wanita yang belum pernah berhubungan seksual memroteksi diri? Melakukan pap smear jelas bukan jalan keluar terbaik karena dikhawatirkan merusak selaput dara (hymen).

Satu-satunya jalan adalah melakukan vaksinasi HPV. Cara ini dianggap masih cukup ampuh untuk meminimalisasi infeksi HPV. Vaksinasi ini disyaratkan diulang dua kali yaitu satu bulan setelah pemberian vaksin pertama dan diikuti vaksinasi tahap ketiga pada bulan keenam dari kali pertama vaksin.

Sayangnya, biaya yang harus disiapkan untuk vaksinasi HPV tak sedikit. Sekali vaksin, pasien harus menyiapkan dana sekitar Rp 500.000. Faktor ini pulalah yang mengakibatkan tak banyak kalangan yang dapat melakukannya.

Jika harga vaksin HPV itu dirasa terlalu mahal, sejatinya para wanita bisa saja melakukan pencegahan dengan cara penerapan pola hidup sehat. Pasalnya selain kehadiran HPV, kanker serviks juga sangat mungkin dipicu oleh gaya hidup yang kurang sehat seperti merokok atau mengonsumsi alkohol. Ada baiknya pula meminimaliasi potensi penularan dengan menghindari berganti-ganti pasangan.

“Sering terjadi infeksi pada alat kelamin juga bisa jadi pemicu kanker serviks, karena itu wanita harus menjaga kebersihan kewanitaan. Gunakan pembalut yang aman,” timpal dr Moh Nasrun MARS di sela-sela kegiatan internal Avail dan seminar mengenai kanker serviks di Orient Restaurant, belum lama ini.

Anda yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker serviks sebaiknya juga perlu ekstra waspada, karena seperti kasus kanker pada umumnya riwayat keluarga juga berpengaruh pada besar tidaknya resiko seseorang terkena kanker.

Gejala kanker serviks
Pada tahap awal kanker serviks akan menimbulkan gejala berupa:

  1. Keputihan dalam waktu lama, bisa berupa cairan encer atau kekuningan dan berbau.
  2. Menstruasi tidak normal, lebih banyak atau lebih lama.
  3. Terjadi pendarahan setelah menopause.
  4. Pendarahan setelah bersenggama.
  5. Terkadang diikuti gejala lain seperti nafsu makan menurun, penurunan berat badan atau nyeri bagian panggul.
  6. Pada stadium lebih lanjut, keluar cairan kuning berbau bercampur darah dari vagina.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…