Senin, 8 Maret 2010 21:13 WIB Kuliner Share :

Serba bikin sendiri, lebih memikat

Seperti bunyi iklan salah satu merk sepeda motor, “Inovasi tiada henti,” jargon itu pula yang terus digaungkan para pemain bisnis roti burger yang terbilang sudah lama mengepakkan sayap usaha di Kota Bengawan ini. Mulai dari mempercantik tampilan gerai, kemasan maupun pelayanan kemudahan banyak dilakukan. Tak lain, untuk tetap bisa bersaing di tengah makin menjamurnya gerai roti burger baru. Meskipun tak dipungkiri, penurunan omset tetap tak bisa terelakkan.

Namun, rupanya konsep serba bikin dari beberapa komposisi roti burger yang menunjukkan karakter khas lebih memikat para pelanggan. Salah satunya seperti yang dilakukan di Tisada Burger. Gerai burger asal Klaten yang sudah berumur 15 tahun. “Salah satu kekhasan dari Tisada Burger baik roti maupun mayonesnya sejak awal berdiri pada 1995 dengan harga per bijinya masih Rp 1.500, semuanya buatan sendiri,” terang salah seorang karyawan Tisada Burger Kota Barat, Wahyono.

Dengan formula itu, kesegaran kedua bahan tersebut setiap harinya juga terjamin. Sebab, baik mayones maupun roti setiap hari selalu baru. Saat roti burgermulai dilahap, keempukan rotinya masih begitu terasa meskipun sudah dipanaskan. Mayonesnya yang berwarna kuning cerah juga terasa begitu unik. Nuansa gurihnya terasa lebih meruap-ruap meskipun sudah berpadu dengan saus sambal dan saus tomat yang pedas asam. Dinikmati saat udara dingin terasa lebih klop dan nikmat.

Bila sayuran yang berupa selada, irisan bawang bombai, tomat dan mentimun dipisahkan, maka isi irisan daging beroleskan mayones dan sausnya masih lezat kalaupun terpaksa harus dinikmati setengah hari kemudian. “Untuk jumlah penjualan per harinya sekarang ini dengan harga per biji Rp 7.000 masih lumayan. Namun memang jauh bila dibandingkan sebelum tahun 2000,” ujarnya.

Di Edo Burger yang sudah ada sejak lima tahun silam, resep yang sama juga diterapkan. Roti dan mayones setiap hari fresh from the oven dari dapur sendiri. Untuk roti nyaris tak berbeda dengan di Tisada Burger. Teksturnya tetap empuk meskipun sudah dipanaskan. Bedanya justru pada mayones yang warna kuningnya terlihat lebih lembut. Dengan nuansa manis lebih meletup-letup di lidah selain juga gurih. Klop dengan karakter lidah orang Solo. ”Sebab, kunci kelezatan burger memang pada dasarnya ada pada mayones,” ujar pemilik Tisada Burger Agus Nugroho saat ditemui Esposdi rumahnya Jl Kantil 6 Kotabarat Rabu, (3/3).

Menurut Agus, dengan kekhasan rasa yang tetap terjaga itulah memang konsumen kemudian tetap loyal. Meskipun secara omzet penjualan relatif ada penurunan. Namun demikian, geliat bisnis roti burger yang sedang menggelora belakangan ini juga semakin memasyarakatkan roti burger kembali.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas, Fetty Permatasari

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…