Jumat, 5 Maret 2010 23:04 WIB Solo Share :

Dukungan mengalir untuk Solo jadi ibukota

Solo (Espos)–Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Solo serta Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Soloraya mendukung Solo atau Surakarta dijadikan ibukota Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Alasannya, potensi ekonomi dan sumber daya manusia Kota Bengawan begitu menjanjikan. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Kadin Solo, Hardono, dan Ketua Apindo Soloraya, Baningsih Bradach Tedjokartono, saat dihubungi Espos, Jumat (5/3).

“Saya selaku pengusaha melihat prospek Solo menjadi ibukota provinsi sangat bisa diharapkan. Solo memiliki SDM kelas nasional dan internasional serta perputaran uang luar biasa di pusat-pusat perdagangan,” ujar Hardono.

Dia mencontohkan, perputaran uang di Pasar Klewer mencapai Rp 100 miliar/hari. Begitu juga perputaran uang tunai di pusat perbelanjaan Sami Luwes mencapai Rp 11 miliar/hari. Angka tersebut, menurut Hardono, sangat fantastis. Sedangkan SDM, menurut dia, tak perlu diragukan lagi. Sejumlah tokoh Kota Bengawan di berbagai bidang telah diakui kapasitasnya di tingkat nasional dan internasional.

Hardono menilai, perlu komitmen untuk mengembangkan Solo. Agenda paling penting yakni optimalisasi potensi Bandara Adi Soemarmo. Pasalnya, selama ini bandara tersebut tertinggal jauh dengan Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Pengusaha maskapai penerbangan harus ditarik untuk membuka layanan di Bandara Adi Soemarmo.

Senada, Baningsih terang-terangan menilai potensi wisata Solo lebih bagus dari Kota Semarang. Begitu juga potensi SDM dan infrastruktur, menurut dia, Solo tak kalah dari Semarang.

Agak berbeda, kalangan DPRD Solo juga mendukung wacana Solo menjadi ibukota provinsi, dalam hal ini provinsi yang berdiri sendiri. Wakil Ketua DPRD Solo, Muh Rodhi, Kamis, mengatakan, Jawa Tengah layak dipecah menjadi dua. Salah satu wilayah yang layak menjadi provinsi adalah daerah Soloraya.

Bahkan, menurut Rodhi, sejumlah daerah di Jawa Timur bagian selatan bisa bergabung dengan Soloraya. “Bisa saja Trenggalek, Ponorogo, Madiun, hingga Pacitan bergabung dengan Solo. Mereka lebih merasa dekat dengan Solo ketimbang Surabaya,” urainya.

Menurut Rodhi, upaya tersebut pernah dikaji secara akademis. Hasilnya, tak hanya dianggap layak sebagai ibukota provinsi, Soloraya dinilai pantas menjadi provinsi sendiri.

Wakil Ketua DPRD, Supriyanto, menambahkan, usulan tersebut memerlukan konsep dan kajian yang mendalam. Dia mengaku sependapat dengan wacana tersebut. Persiapan menuju langkah tersebut harus dirintis. “Wacana ini sudah muncul enam tahun lalu. Kalau perlu dibentuk Pokja (kelompok kerja) untuk menanganinya. Jadi tidak hanya angan-angan,” imbaunya.

kur/haa/asa

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…