Sabtu, 20 Februari 2010 00:06 WIB Hukum Share :

Setahun kematian Prabangsa, wartawan gelar doa bersama

Denpasar-– Mengenang setahun kematian AA Narendra Prabangsa, wartawan Radar Bali yang tewas dibunuh pada 11 Februari tahun lalu, Puluhan wartawan di Bali menggelar doa bersama di Jalan Cokroaminoto, Denpasar, Sabtu (20/2)

“Ini momentum bagi kita semua para jurnalis di Bali, meski almarhum secara administratif merupakan wartawan kami, namun menjadi bagian dari jurnalis umumnya yang akan terus memperjuangkan kebenaran universal,” kata Direktur Radar Bali Justin Herman saat memberi sambutan dalam acara yang dihadiri sejumlah jurnalis dan aktivis LSM Bali ini.

Baik wartawan maupun kolega almarhum juga diberi kesempatan bicara untuk menyampaikan cerita atau kenangan semasa bersama almarhum.

Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya misalnya mengatakan sering bersama almarhum dalam menjalankan fungsi sebagai wakil rakyat.

Tapi diakuinya, akibat tulisan-tulisan almarhum, membuat dirinya harus bersitegang gara-gara pemberitaan keras ketika anggota DPRD Bali bepergian ke luar negeri.

“Almarhum bilang, karena saya telah melanggar komitmen untuk tidak pergi ke luar negeri dengan uang rakyat, sehingga terpaksa dia tulis,” kata Arjaya.

Sementara Kabid Humas Polda Bali Kmmbes Pol Gede Sugianyar juga memberikan sambutan. Ia bercerita saat dirinya baru saja bertugas di Bali, langsung “dihadiahi” kasus pembunuhan Prabangsa.

“Kasus ini menjadi pembelajaran kita bersama tentang risiko profesi wartawan dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, kami bertekad untuk mengawal kasus ini dengan mengungkap pelakunya,” kata mantan Kapolresta Balikpapan ini.

ant/rif

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…