Senin, 15 Februari 2010 18:04 WIB Kuliner Share :

Sin Cia etalase budaya China

Ingin melihat kekayaan budaya dan kebiasaan orang China tak perlu jauh-jauh terbang ke Tiongkok. Pasalnya euforia perayaan Tahun Baru China tak ubahnya seperti etalase kebudayaan China. Bisa dilihat selama Sin Cia, atraksi barongsai dan liong yang menawan bakal dengan mudah dijumpai. Mulai di mal sampai di kampung, atraksi seni tersebut laris manis ditanggap. ”Selama perayaan tahun baru Imlek, kelompok barongsai saya memang pentas jauh lebih banyak dari biasanya. Bisa sampai lebih dari 20 kali,” ujar rohaniawan Konghucu yang juga pemimpin Kelompok Barongsai Tripusaka Solo, Adji Chandra.

Nah, itu kalau keseniannya. Bagi yang gemar berburu baju-baju model terbaru sebagai koleksi, model pakaian modifikasi mode China atau mode China asli tentu begitu mendominasi etalase-etalase butik maupun mal. Tinggal pilih, mana yang sesuai dengan ukuran badan dan sesuai dengan kantong Anda.

Aneka kuliner
Bagi pecinta kuliner juga sama saja. Sebab, aneka kuliner lebih tumpah ruah dalam perayaan tahun baru tersebut. Sehinga tak hanya dapat menikmati bakso dan bakmi saja. Mulai dari sapo tahu, kwetiau, i fu mi, nasi hainan, nasi tim ayam sampai sup rajungan yang berpadu asparagus komplet dapat dijumpai dalam sejumlah bazar makan yang umumnya digelar pada rangkaian perayaan tersebut. ”Termasuk kudapan asli dari China sendiri juga tersedia lebih banyak,” ujar pemilik Toko Sinar di Pasar Gede, Gian Setyadi.

Menurut Gian, kudapan semacam manisan jeruk ponkam, biskuit buah aneka rasa, kwaci China sampai permen-permen rasa buah khas China dengan bungkus yang berwarna-warni yang menarik tersedia komplet di tokonya selama perayaan Tahun baru Imlek. Semuanya juga impor langsung dari China. ”Namun harganya tetap murah. Untuk permen saja rata-rata Cuma Rp 17.000-an per bungkus. Isi satu bungkusnya 50 biji,” tutur Gian.

Untuk yang ingin menyaksikan beragam ritual menyambut Sin Cia, hiruk pikuk aktivitas sembahyang di klenteng maupun vihara juga bisa dilihat lebih sering ketimbang biasanya. ”Klenteng terbuka untuk siapa saja, termasuk bagi yang ingin mencari peruntungan atau pengobatan lewat Ciam Si,” begitu kata Ketua Klenteng Ann Poo Kiong Coyudan, Maryono.

Keunikan-keunikan lainnya jika dicermati tentu banyak yang menarik. Bisa dilihat bagaimana orang keturunan China saling memberi salam, bertegur sapa bahkan kebiasaan di meja makan. Tentunya bagi yang belum tahu, itu sangat berguna untuk memperkaya khazanah pengetahuan kebudayaan.

Oleh: Intaningrum, Fetty Permatasari, Esmasari Widyaningtyas

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…