Senin, 15 Februari 2010 22:03 WIB Kuliner Share :

Filosofi kue keranjang selegit rasanya

Bentuknya silindris dengan diameter delapan sampai sembilan sentimeter. Tebalnya tiga sampai empat sentimeter. Terbuat dari ketan dan gula pasir. Warnanya cokelat, ada pula yang merah, kuning dan hijau. Penganan ini belakangan kerap dijumpai dalam bungkusan plastik bening dengan cap kertas berwarna emas atau merah menyala yang ditempelkan pada bagian atasnya. Dijual di banyak toko makanan menjelang Tahun Baru Imlek. Banyak dibeli orang —berbagai suku bangsa— terutama karena ke-
legitan rasanya.

Pasti deskripsi itu mudah ditebak. Itulah kue keranjang atau nian gaoyang seperti sudah menjadi sajian wajib menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Dinamakan keranjang karena awalnya cetakan kue tersebut terbuat dari keranjang anyaman.

Bagi Dewa Dapur
Menurut kepercayaan masyarakat China, kue keranjang disajikan mulai enam hari sebelum perayaan Tahun Baru Imlek. Pasalnya pada hari tersebut, Dewa Dapur atau Cau Kun Kong yang dipercaya setiap harinya mengawasi dapur setiap rumah akan singgah lalu naik ke langit. Nah, sajian legit dan kenyal itu dibuat untuk menyenangkan Dewa Dapur. ”Dibuat manis, filosofinya agar Dewa Dapur melaporkan yang manis-manis kepada tuhan,” terang salah seorang yang sudah lebih dari 50 tahun membuat kue keranjang berlabel Kawi Jaya, Sunariyati, 77, saat ditemui Espos di rumahnya yang tepat di depan Pasar Danukusuman, Solo, Senin (8/ 2).

Dikatakan Sunariyati yang memiliki nama lahir The Giok Lan itu, meskipun bentuk kue keranjang sederhana, namun proses pembuatannya cukup menyita waktu dan kesabaran. Pertama, tepung ketan dicampur dengan gula pasir cair yang masih dalam kondisi hangat selama kurang lebih satu jam sampai merata dan berbusa. Setiap 12 kg tepung ketan, dibutuhkan gula 10 kg. Lantas, adonan yang telah berbusa tersebut difermentasikan atau didiamkan selama semalam. Barulah setelah itu dituangkan dalam cetakan setebal sekitar lima sentimeter dengan diameter empat sentimeter berbahan aluminium yang didalamnya sudah dilapisi plastik. Berat adonan tiap cetakan rata-rata 250 gram. Adonan itu lalu dikukus selama tujuh jam. ”Mengukusnya harus memakai kayu bakar. Sesudah dikukus juga mesti didiamkan terlebih dahulu semalam agar plastik mudah dilepas dari cetakannya,” ujarnya.

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, dalam sehari rata-rata Sunariyati menghasilkan kue keranjang sebanyak 50 kg saja. Dengan harga tiap kilogramnya Rp 21.000. Selain Sunariyati, pemilik Toko Mini di Pasar Gede, Andrie Wiryo Setyono, setiap tahun sekali, juga setia membuat kue keranjang. Meskipun rasanya tak jauh berbeda, namun warna cokelat kue keranjang buatan Andrie lebih cerah dibandingkan produk Sunariyati. Setiap harinya, selama Tahun Baru Imlek menjelang, Andrie membuat 300 kg kue keranjang yang per kilogramnya dibanderol Rp 23.000.

Oleh: Intaningrum, Fetty Permatasari, Esmasari Widyaningtyas

LOWONGAN PEKERJAAN
DIBUTUHKAN TENAGA JAHIT, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…