Sabtu, 13 Februari 2010 18:03 WIB News Share :

Oknum TNI diduga aniaya warga sipil

Salatiga (Espos)–Oknum TNI AD dari kesatuan Detasemen Perbekalan dan Angkutan (Den Bek Ang) Salatiga berinisial Skm berpangkat sersan mayor (Serma) dilaporkan oleh Detasemen Polisi Militer (Den Pom) IV/III Salatiga karena diduga melakukan penganiayaan terhadap warga sipil.

Skm dilaporkan Ninuk Lestari Wismawati, 41, warga Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidmukti Salatiga yang mengaku menjadi korban pemukulan yang dilakukan terlapor.

Ditemui di kediamannya, korban mengaku dipukul oleh Skm di depan atasannya yakni Letkol CBA Erry Fahmi, yang tidak lain adalah Komandan Den Bekang Salatiga. Ironisnya, lanjut korban, Erry tidak berupaya mencegah terlapor agar tidak melakukan pemukulan.

Sang komandan justru membela anak buahnya dan mencegah anak korban, Didik Indriaswono, 22, yang berupaya melindungi ibunya.
“Saya merasa dilecehkan dan dirugikan. Saya sangat kecewa, seharusnya TNI itu melindungi masyarakat justru melakukan penganiayaan apalagi terhadap perempuan seperti saya,” papar Ninuk didampingi Didik.

Ninuk memaparkan, kasus tersebut bermula dari utang piutang antara terlapor dan korban. Terlapor tidak melunasi hutang-hutangnya kepada korban yang nilainya mencapai lebih dari Rp 8 juta. Uang sebesar itu dipinjam terlapor dalam beberapa tahap mulai 11 November-20 Desember 2009. Korban yang memang memiliki pekerjaan memberikan jasa peminjaman uang tersebut, mencoba menagih terlapor namun tak berhasil.

Kemudian korban mencoba meminta bantuan atasan terlapor dengan maksud agar persaoalan utang-piutang itu dapat diselesaikan secara baik-baik. Namun yang terjadi sebaliknya. Pada Rabu (10/2) korban menerima panggilan dari Erry untuk menghadap dia.

Saat hendak ke ruangan Erry, hanya korban yang diperbolehkan masuk. Sementara Didik yang menemani ibunya, disuruh menunggu di pos penjagaan. Di ruang itu lah, menurut Ninuk, ia dipukul dua kali oleh terlapor.

“Pertama dibagian pipi kiri saya. Kemudian di kepala saat saya hendak keluar meminta pertolongan anak saya,” ujar wanita berambut pendek itu. Tak terima diperlakukan seperti itu, korban lantas melaporkan kasus itu ke Den Pom IV/III Salatiga hari itu juga.

Dikonfirmasi via telepon, Erry mengaku tidak tahu dan enggan memberikan keterangan lebih lanjut. Ia kemudian memutuskan sambungan telepon.

Sementara Komandan Denpom IV/III Salatiga, Mayor CPM I Wayan, mengaku belum mengetahui adanya laporan tersebut.

kha

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…