Jumat, 12 Februari 2010 10:39 WIB Ekonomi Share :

Penyelundupan pakaian bekas hantam industri kecil


Jakarta–
Maraknya penyelundupan pakaian bekas memasuki awal tahun 2010 ini dikhawatirkan akan menghantam pelaku usaha garmen lokal skala kecil. Penyelundupan impor pakaian bekas seperti dari Malaysia sering terjaring razia Bea Cukai di perairan Indonesia.

“Penyelundupan pakaian bekas lebih mematikan pengusaha garmen yang kecil, kalau yang besar nggak masalah,” kata Ketua Umum Asosiasi Pemasok Garmen dan Aparel Indonesia (Apgai) Suryadi Sasmita di Hotel Nikko, Jakarta, Jumat (12/2).

Ia mengatakan masalah penyelundupan pakain bekas sangat mengkhawatirkan. Sebab jika produk-produk itu sudah sampai ke pasar lokal maka akan lebih banyak dibeli oleh kalangan segmen bawah yang selama ini menjadi pasar industri garmen skala kecil.

“Kalau orang segmen atas nggak mungkin dong beli pakaian bekas,” katanya.

Ia juga mengatakan masih adanya penyelundupan pakain termasuk pakaian bekas menunjukan banyak pelaku usaha importir tidak taat pajak karena dengan barang-barang selundupan  tersebut, si importir bebas dari kewajiban pajak. Padahal kata dia importasi pakaian bekas sudah sejak lama dilarang oleh pemerintah.

“Ini karena importirnya yang tidak punya NPWP, menghindar pajak,” tegasnya.

Sejak awal tahun 2010 saja Bea Cukai Tanjung Balai Karimun  telah menangkap 8 kapal bermuatan pakaian bekas asal Malaysia sebanyak 12.000 bal di wilayah Laut China Selatan dengan potensi kerugian hingga Rp 12,35 miliar. Penangkapan setidaknya sudah dilakukan sejak 4 Januari 2010 hingga 10 Februari 2010.

Pada  bulan Agustus tahun 2009 lalu juga pakain bekas asal Malaysia berhasil diamankan oleh Bea Cukai Surabaya sebanyak  2.160 bal dengan potensi kerugian Rp 4,32 miliar.

dtc/isw

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…