Kamis, 11 Februari 2010 20:40 WIB Kuliner Share :

Penyet tak selalu penyek

Mendengar kata menu penyet, tentu bakal tergambar di benak wujud lauk-pauk yang gepeng, lumat atau penyek apapun bahannya. Bisa tahu, tempe, ayam, ikan, termasuk juga kudapan semacam pisang penyet. Maklum saja, Kamus Besar Bahasa Indonesia memang memaknai penyet sebagai penyek yang artinya pipih karena terinjak, terhimpit dan sebagainya.

Nyatanya, memaknai menu penyet harus lebih obyektif. Pasalnya, tak semua penyet selalu penyek. Konon malah sajian dari tempat aslinya, menu penyet sebenarnya tak berwujud penyek. Belakangan ini saja, muncul menu penyet dalam dua versi.

“Setahu saya, yang dinamakan penyet itu maksudnya sambal penyet atau kalau di sini lebih populer dengan sambal terasi,” ujar Gunawan dari rumah makan Bebek Penyet Jl Gajah Mada, Solo. Sehingga, lanjut Gunawan penyajian penyet tak ubahnya dengan sajian daging ayam atau bebek yang digoreng dengan sambal tersendiri. Lalu menikmatinya dengan istilah dicocol. Menurutnya, kekhasan sambal penyet asal Jawa Timur adalah cita rasa yang segar karena sambal dicampur tomat, juga aroma gurih dari terasi. Rasanya juga dominan asin. ”Itu yang disebut sambal penyet,” tegasnya.

Itu pasalnya, menurut Gunawan, penyajian yang dilakukan di warung makannya pun demikian apabila konsumen memilih sambal terasi. Kecuali, bila konsumen meminta sambal korek atau sambal bawang yang lebih populer di Kota Solo. Biasanya akan langsung dipenyek.

Namun menurut Muri, dari warung aneka penyet di Jl Garuda, Pabelan Kartasura, sejak dulu ia mengenal sajian penyet memang dengan tampilan yang penyek. Tetapi ia sepakat kalau sambal asli penyet memang dengan ciri memakai tomat dan terasi. Itu pasalnya, Muri mengakui bahwa tak sembarang lauk bisa dipenyet. ”Kalau daging ayam misalnya yang bisa dipenyet tentu bagian yang berdaging tebal, kalau tidak dada ya paha.”

Sedangkan untuk ikan-ikanan, menurut Muri juga sebaiknya dipenyet adalah ikan sebangsa lele. Itu pun, sebaiknya, yang berukuran kecil. Selain dagingnya lebih manis, tulang belulang yang muda juga bisa sekalian dikremus. ”Jadi penyet juga bisa mencegah osteoporosis,”ungkapnya sambil berkelakar. Tetapi kalau bebek malah sebaiknya, justru akan lebih enak jika menggunakan daging dari bebek yang berusia matang.

Oleh: Fetty Permatasari, Esmasari Widyaningtyas

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…