Gelembung berair di kulit tak mesti herpes

Nama herpes sebagai penyakit kulit tentu tak asing di telinga. Masyarakat Jawa biasanya menyebut penyakit radang kulit yang ditandai dengan pembentukan gelembung-gelembung atau plenting-plenting berkelompok ini sebagai dompo.

Sayangnya, orang kerap salah kaprah. Menyebut semua gelembung berair dan bergerombol di kulit dengan istilah herpes maupun dompo. Tak jarang pula yang menganggap racun serangga tertentu menjadi biang keladi herpes. Padahal penyebab herpes adalah virus.

”Penyakit herpes dibedakan menjadi dua macam, herpes zoster atau juga disebut dompo dan herpes simpleks,” terang dokter spesialis kulit dan kelamin pada RS Kustati, dr Endra Yustin MSc SpKK, saat ditemui di ruang kerjanya pekan lalu.

Herpes zoster atau shingles disebabkan oleh virus varicella zoster (VVZ). Jenis herpes ini juga dikatakan sebagai lanjutan dari chickenpox atau cacar air. Pasalnya, herpes jenis ini bisa jadi merupakan reaktivasi VVZ yang sudah bersarang di ganglion saraf penderita yang pernah menderita varisela atau cacar air akibat stres fisik atau psikis maupun kondisi yang menyebabkan imunitas tubuh merosot.

Gejalanya, demam atau meningkatnya suhu tubuh, disertai nyeri di bagian tubuh yang nantinya diikuti timbulnya bercak. Penyakit ini rata-rata menyerang usia dewasa. ”Tetapi ada kemungkinan usia remaja juga bisa terkena herpes zoster,” ujar Prof Dr dr Harijono SpKK dari Griya Nurrita Skin Care Klinik dan Spa Medis Jl Gatot Subroto 230 Solo.

Bedanya dengan cacar air adalah kalau cacar air bisa terjadi di kulit seluruh tubuh dengan gelembung yang mungil, maka herpes zoster dengan bentuk gelembung yang lebih besar dan hanya meyerang sebagian tubuh atau satu sisi. Kanan atau kiri tubuh saja.

Mengapa demikian? Sebab, yang diserang saraf kulit. Saraf terbentuk secara melingkar dari induk saraf di dalam tulang belakang dan kepala menyusuri bagian tubuh kanan dan kiri. Ujung-ujungnya ada di bagian depan depan tubuh dan tidak bersambung satu dengan lainnya.

”Sehingga ada pula asumsi, misalnya saat terkena cacar air yang paling banyak di bagian wajah, herpes zosternya kemungkinan juga akan di wajah. Tapi itu memang belum evident base medicine. Selama ini kebanyakan juga terjadi di dada atau punggung,” ungkap dr Endra.

Tulari janin

Namun, pada penderita immunocompromised seperti penderita HIV atau kanker stadium lanjut dengan daya imunitasnya yang sudah rusak, herpes zoster dapat menyerang seluruh bagian tubuh. Sedangkan, bagi seseorang yang belum pernah mengalami cacar air, apabila terserang VVZ maka tidak langsung mengalami penyakit herpes zoster. Tetapi mengalami cacar air terlebih dahulu. Sedangkan untuk herpes simpleks penyebabnya virus herpes simpleks (VHS) dengan infeksi ada dua jenis.

Infeksi oleh VHS tipe 1 yang menyebabkan lepuhan di bibir (herpes labialis) dan kadang di kornea mata (herpes keratitis). Sedangkan VHS tipe 2 menyebabkan herpes genitalis yang menyerang bagian genital atau alat kelamin. Karenanya juga bisa digolongkan dalam penyakit infeksi menular seksual.

Ibu hamil yang terinfeksi VHS tipe 2 bisa menularkan infeksi kepada janinnya. Pengaruhnya pada janin, salah satunya menyebabkan peradangan ringan selaput otak (meningitis). Sehingga, untuk pencegahan penularan saat melahirkan, sebaiknya sang ibu melahirkan secara caesar. ”Dengan daya imunitas tubuh cenderung turun, perempuan hamil memang rentan terkena virus ini,” ungkap dr Harijono.

Sementara itu, secara umum penyakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Tetapi pada herpes zoster, seperti halnya penyakit cacar air proses penularan bisa melalui bersin, batuk maupun pakaian yang tercemar cairan gelembung yang pecah.

Pada herpes labialis, penularan dapat melalui kontak dengan sekresi dari atau di sekitar mulut. Sedangkan pada herpes genitalis, penularan terjadi melalui kontak langsung dengan luka selama melakukan hubungan seksual. Herpes jenis ini kadang juga diderita dibagian mulut akibat oral seks.

Itu sebabnya, menurut dr Endra terutama yang terkena herpes genitalis tahap primer dianjurkan untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual kurang lebih selama setahun. Sebab trauma mikro akan tetap muncul saat berhubungan seksual dan penyakit ini relatif kerap kambuh. Rasa nyeri yang timbul juga lebih hebat pada tahap primer.

Perilaku seksual yang sehat dan menjaga imunitas tubuh tetap fit menjadi pencegahan yang lebih mujarab. ”Sebab virus yang telah bersarang di tubuh tidak dapat dieradikasi atau dibunuh tetapi dapat dilemahkan dengan pengobatan dan menjaga imunitas,” kata dr Endra.

Oleh: Fetty Permatasari, Esmasari Widyaningtyas

Editor: | dalam: Kesehatan |
Iklan Cespleng
Menarik Juga »