Kamis, 11 Februari 2010 21:03 WIB Kuliner Share :

Eksotisme penyet menggairahkan

Siapa yang tak terpesona melihat tempe digoreng telanjang tanpa balutan tepung, dalam kondisi penyek atau pipih berlumur sambal merah merekah pada bagian atasnya. Apalagi, jika tersaji dengan sepiring nasi putih yang masih kepul-kepul dan lalapan segar. Eksotis dan menggairahkan untuk segera disantap. Di Kota Solo dan sekitarnya, bukan perkara susah menemukan menu yang konon berasal dari Jawa Timur itu. Bahkan tempe penyet dan aneka penyet lainnya, seolah menjadi menu tak terpisahkan dari khazanah kuliner Soloraya. Eksplorasi menu penyet kian dalam, sehingga jenisnya pun tambah beragam.

Salah satunya seperti yang ditawarkan di Rumah Makan Pondok Jowi Jl Kasumawati 2 Tirtoyoso Manahan, Solo. Di sana tersedia 14 macam kreasi penyet. Selain tempe dan tahu penyet, juga ada belut penyet yang paling digemari pelanggan, kakap penyet, sampai tauge penyet. ”Yang menjadikan kekhasan penyet dari warung makan satu dan lainnya yaitu pada sambal dan lalapannya,” ujar pemilik Pondok Jowi, Koko, 27, saat dijumpai Espos di warung makannya, awal pekan ini.

Sambal dan lalapan
Memang benar, sambal dan lalapan adalah daya pikat tersendiri dari sajian penyet. Di Pondok Jowi, sambal cabai rawit merah segar dengan warna cenderung oranye dan lalapan berupa daun pepaya berwarna ijo royo-royo tanpa rasa pahit menjadi ciri khasnya. Selain juga irisan kol dan kemangi.

Paduan yang pas dengan empuknya daging belut plus nasi bakar yang masing-masing terhidang di piring gerabah berbentuk persegi dengan panjang sisi sekitar 15 cm. Pedasnya tak terlalu menusuk di lidah, sedikit manis dengan semburat aroma terasi yang lembut. Alunan musik etnik, suasana tempat semi terbuka yang mencitrakan nuansa Jawa-Bali, dengan gemericik air dari kolam-kolam kecil dibeberapa sudut ruangan. Semakin memanjakan penikmat penyet untuk meresapi sececap demi sececap semua keunikan yang disuguhkan.

Paduan harmonis sambal segar dan lalapan serupa juga bisa dinikmati di lesehan Barokah dekat perempatan lampu merah Papahan Karanganyar yang menyediakan olahan penyet berupa tempe penyet dan telur penyet saja. Bedanya komposisi sambal lebih lengkap karena ditambah tomat, cabai merah besar dan bawang putih. Dengan nuansa rasa yang cenderung asin. ”Kalau soal pedas menyesuaikan permintaan. Termasuk bila ada yang minta sambal matang,” ujar si pemilik, Rini, 50.

Sajian sambal mengesankan lainnya dari kedai lesehan menu penyet juga dapat dinikmati di salah satu lesehan malam Kota Barat yang spanduk penyekatnya bertuliskan, “Terancam dan Gudangan Mbak Dewi.” Meskipun penyet bukan menjadi judul lesehannya namun sambal yang melumuri irisan tipis tempe penyet goreng di sana cukup mengejutkan.

Warna sambelnya merah kekuningan, rasa dominannya gurih pedas, dengan potongan kecil daun kemangi yang menyembul dari sela-sela sambal yang sengaja tak turut dilumatkan. Walaupun komposisi utama sambal berupa cabai rawit dan bawang merah, namun aroma yang menyeruak justru wangi kemangi. ”Dan sambal baru dibuat saat ada yang memesan,” ujar sang kreator Dewi Sri Rahayu.

Wangi kemangi yang tak kalah menggoda juga disuguhkan di Warung Makan Bebek Penyet Surabaya di Jl Gajah Mada 100. Bedanya nuansa segarnya tomat, wujud yang lebih cair, aroma rempah dan pedas yang melumuri bebek goreng penyet lebih menonjol. Warna sambal bajaknya juga lebih pekat. Merah sedikit kecokelatan.

”Ini memang mengacu resep asli dari Surabaya, segar dengan rasa lebih pada gurih asin,” ujar pemilik Bebek Penyet Surabaya, Gunawan. Namun, menurut Gunawan bagi yang intolerir pedas, juga tersedia sambal bawang matang yang cenderung manis. Termasuk, bagi yang tak terlalu gemar bebek juga ada ayam penyet. Namun, bagi yang benar-benar ingin menikmati penyet dengan sambal sesuai cita rasa masakan Solo, tak rugi menjajal ayam penyet di Resto Ramayana Jl Imam Bonjol 49 Solo.

Rasa legit yang Solo banget terdeskripsi dari sambal matang berwarna merah tua pekat, kental dan terkesan rapi. Seperti sambal yang dilumatkan dengan bantuan blander. ”Tapi itu asli diulek,” ujar pemilik Resto Ramayana yang satu group dengan Bale Padi dan Gmah Ripah, Wieke. Karakter kuat lainnya yang ditonjolkan yakni ayam penyet garing terhidang langsung dicobek berbahan dasar batu. Dengan lalapan berupa selada, irisan tomat dan mentimun. ”Daging yang kami gunakan juga daging ayam kampung,”ungkapnya.

Oleh: Fetty Permatasari, Esmasari Widyaningtyas

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…