Selasa, 2 Februari 2010 12:39 WIB News Share :

Rajai pasar, Produk China harus dibatasi


Jakarta–
Pengamat ekonomi, Farial Anwar meminta pemerintah agar segera membatasi masuknya produk China guna menahan laju masuknya produk China akibat perjanjian perdagangan bebas China-ASEAN (CAFTA ) yang berlaku mulai 1 Januari 2010.

“Kebijakan baru itu diharapkan dapat mengatur masuknya barang produk China ke dalam negeri, sehingga tidak semua produk China akan masuk ke pasar di Indonesia,” katanya di Jakarta, Selasa.

Farial Anwar yang juga Direktur Currency Management Group mengatakan, produk China dengan harga yang jauh lebih murah sangat diminati konsumen Indonesia , sehingga dikhawatirkan akan menggeser produk lokal yang harganya jauh lebih mahal.

Apabila pemerintah tidak melakukan pengaturan terhadap masuknya produk China, maka dampaknya akan sangat besar dirasakan, katanya.

Menurut dia, produk China bisa mengungguli produk lokal yang harganya jauh lebih tinggi, sehingga produk lokal tidak diminati konsumen yang pada gilirannya akan mematikan perusahaan lokal.

Akibat dari semua itu maka perusahaan lokal akan ditutup yang pada gilirannya akan meningkatkan pengangguran di dalam negeri, katanya.

Kondisi ini, lanjut Farial Anwar juga akan mendorong investasi asing makin berkurang, karena mereka mengalihkan dananya ke negara lain yang akan dijadikan basis produksi ke pasar Indonesia.

Hal ini akan menekan ekspor Indonesia ke pasar dan impor barang dari negara lain akan makin banyak masuk ke Indonesia, ucapnya.

Apabila hal ini berlanjut maka kedepan hanya dalam waktu satu sampai dua tahun Indonesia hanya an menjadi negara konsumen. Ekonomi masih tetap tumbuh, namun dinlai tidak berkualitas.

Para investor asing kemungkinan akan menginvestasikan dana di China maupun di Vietnam ketimbang Indonesia sebagai basis produksi dan mengekspor produknya ke pasar domestik, kata Farial Anwar .

“Kami optimis pemerintah akan melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi masuknya produk China yang harganya jauh lebih¬† murah ketimbang produk domestik,” ucapnya.

Farial Anwar mengatakan, meski menjadi negara konsumen, pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebesar 5,5 persen bisa saja tumbuh.

Namun ekspor Indonesia diperkirakan akan merosot tajam karena volumenya makin mengecil, katanya.

Pemerintah, lanjut dia harus benar-benar siap dalam perjanjian perdagangan bebas antar ASEAN dengan China.

” Apakah kita benar-benar siap menghadapi serbuan produk dari China, ujarnya.

Apabila produk China masuk ke pasar domestik, lanjut dia, maka industri tekstil, industri sepatu, keramik, alat bahan bangunan di dalam negeri akan mengalami kemunduran.

Hal ini akan berdampak negatif terhadap tenaga kerja, sehingga produksi perusahaan akan makin berkurang, ucapnya.

ant/isw

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…