Selasa, 2 Februari 2010 12:46 WIB Ekonomi,Internasional Share :

Delapan juta mobil Toyota di dunia akan ditarik

New York– Toyota Motor Corp akan menarik sekitar delapan juta kendarannya di seluruh dunia untuk diperbaiki. Hal ini menyusul atas sejumlah masalah termasuk tuduhan kegagalan pedal akselerator yang dibuat oleh pemasok CTS Corp, dan kemungkinan bahwa karpet lantai dapat memacetkan pedal akselerator.

Saat ini Toyota Motor Corp sedang menghadapi jumlah tuntutan hukum yang meningkat dari konsumen yang mengeluhkan kendaraan mereka yang tiba-tiba berakselerasi atau bertambah cepat, dan ingin produsen otomotif terbesar di dunia tersebut membayar untuk itu.

Toyota menghentikan penjualan delapan model di Amerika Serikat dan Kanada, termasuk model populernya Camry dan Corolla, karena kemungkinan akselerasi yang tidak diharapkan.

Model kendaraan Toyota lain yang ditarik adalah Avalon, Highlander, Matrix, RAV4, Sequoia dan Tundra. Sejumlah masalah tersebut telah memudarkan reputasi Toyota dalam membuat kendaraan yang paling terpercaya di jalan. Itu merupakan isu keselamatan otomotif paling menonjol sejak laporan yang mencuat pada 2000 bahwa sejumlah roda Firestone yang dipasang di Ford Explorers mengalami kegagalan.

“Kewajiban bagi Toyota dapat mencapai miliaran dolar, karena jumlah kendaraan yang terlibat dan fakta adanya kecelakaan serius dan korban meninggal,” kata Gary Robb, partner pada Robb & Robb LLC di Kansas City, Missouri. Ia mengatakan firma hukumnya telah menampung gugatan dari konsumen dan akan menuntut Toyota.

Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS mengatakan pihaknya belum memiliki bukti ada seseorang yang mengalami kecelakaan karena pedal yang macet. Dikatakan pihaknya telah mengkonfirmasi bahwa lima orang yang meninggal akibat dari jebakan karpet lantai.

Sejak November, sedikitnya 10 tuntutan hukum yang mengupayakan status “class action” telah gagal melawan Toyota di pengadilan AS dan di Pengadilan Tinggi Ontario di Kanada.

Dimungkinkan bahwa sejumlah proses pengadilan atau ligitasi AS dapat dikombinasikan karena tuntutan yang sama dan itu akan menjadi terlalu berat untuk menangani kasus satu pemilik secara bersamaan.

Toyota pada Senin tidak langsung memberikan komentar atas tuntutan hukum itu.

Para pakar hukum mengatakan para pengemudi kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam pembuktian jika mereka tidak dapat menunjukkan mobil mereka secara aktual mengalami akselerasi secara tiba-tiba. Kekhawatiran itu bakal terjadi tidak cukup.

“Di mayoritas negara bagian yang signifikan, tidak ada perbaikan terhadap gangguan mental dan ketakutan, ketiadaan luka yang diakibatkan dari masyarakat atau properti yang diakibatkan oleh kerusakan itu,” kata Frank Henderson, profesor dan pakar liabilitas produk pada Cornell Law School.

David Owen, profesor hukum pada University of South Carolina dan direktur Tort Law Studies, mengatakan Toyota kemungkinan akan lebih berisiko di sejumlah negara bagian AS yang mengenakan “kewajiban untuk mengingatkan” konsumen kepada pabrik mengenai kerusakan.

“Dasar untuk menuntut adalah adanya kerusakan disain, dengan mengabaikan apa yang Toyota lakukan untuk menyelesaikan konsekuensinya, dan kemungkinan bahwa peringatan pasca-penjualan tertunda terlalu lama,” katanya.

“Jika ternyata bahwa Toyota menunda penarikan melewati titik ketika pabrik yang layak akan melakukan hal yang sama, kemudian kerusakan yang menghukum dalam jumlah yang substabsial dapat tersedia bagi siapa saja yang terluka secara fisik,” kata Owen menambahkan.

Sejumlah penggugat diperkirakan akan mengupayakan memperoleh ganti rugi yang nilainya diperkirakan sebesar nilai penjualan kembali yang dikaitkan dengan noda dari penarikan produk itu, meski Owen mengatakan pengadilan secara umum “tidak bereaksi” atas klaim semacam itu, seperti tuntutan hukum ban Firestone.

Lainnya kemungkinan mengupayakan untuk memperoleh biaya yang dikaitkan dengan penarikan produk itu, seperti kehilangan jam kerja dan biaya menemukan transportasi alternatif ketika kendaraan mereka diperbaiki.

Empat tuntutan hukum paling terbaru didaftarkan pada Jumat. Dalam tuntutan hukum federal yang didaftarkan di Corpus Christi, Texas, penggugat Albert dan Sylvia Pena menuduh bahwa Toyota Avalon 2008 mereka mengalami akselerasi tiba-tiba sedikitnya dua kali, dan pada 14 Januari menyebabkan tabrakan di tanda berhenti.

“Toyota telah lama mengetahui kerusakan pada kontrol klep penutup, dan telah melakukan terlalu sedikit, sangat terlambat untuk memperbaikinya,” kata Robert Hilliard, pengacara yang mewakili Penas.

Tiga tuntutan hukum federal lainnya didaftarkan di New Orleans atas nama pemilik Avalon dan Camry. Pengacara penggugat ini belum bersedia memberi komentar.

Robb mengatakan Toyota harus belajar dari penarikan Tylenol dari toko oleh Johnson & Johnson pada 1982, setelah tujuh orang meninggal karena mencerna obat yang tercemar sianida.

Kejahatan itu tidak pernah terselesaikan, namun respons perusahaan itu dianggap contoh buku teks mengenai bagaimana menangani penarikan produk.

“Mereka menyelamatkan tidak hanya citra publik mereka, namun merek juga,” kata Robb. “Ada keraguan ril apakah mereka Toyota, dari pandangan PR, dapat menyelamatkan (penarikan) ini tetap utuh. Ini terlalu berkepanjangan dan terlalu banyak alasan.”

ant/isw

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…