Sabtu, 30 Januari 2010 11:34 WIB Lifestyle,Kuliner Share :

Soto, satu nuansa, beragam pesona

Yang namanya soto, entah bersantan atau kaldu saja, berwarna bening maupun keruh, pada dasarnya menu satu nuansa. Berkuah banyak, berisi secuil daging dan sayuran dengan pelengkap makanan berkarbohidrat.
Laksana musik dangdut, kesan segar dan merakyat juga melekat pada soto. Menjadi jujugan tukang becak sampai pejabat, serta cocok disantap dalam berbagai suasana. Cuaca panas atau dingin, siang atau malam, sama nikmatnya.
Terlepas mau digolongkan serumpun dengan sup atau tidak, yang jelas pesona soto seolah tak ada habisnya. Setiap seruputan kuahnya senantiasa membekas lama dan mudah terlupakan.
Buktinya, tak sedikit warung di Kota Solo dan sekitarnya yang menyuguhkan soto selalu laris manis. ”Soto di mana-mana sama, yang membedakan hanya soal keunikan rasa,” kata pemilik warung Soto Sore, Tri Handoyo, saat ditemui Espos di warungnya, Jl Solo-Tawangmangu km 7, Jaten, Karanganyar, Sabtu (23/1) malam.
Pendapat Tri tak keliru. Meskipun sama kuah kaldunya, beda warung soto, beda pula sensasi rasa yang ditonjolkan peramunya. Sebab, rempah-rempah untuk soto lebih koplet ketimbang sup.
Keunikan Rasa
Di Soto Sore misalnya, kesegaran aroma dari tambahan buah tomat terasa begitu dominan. Meskipun disajikan dalam wadah mangkuk es yang mungil, isinya tetap komplet. Ada tauge, suun, kentang goreng, rajangan daun seledri, potongan daging sapi kecil-kecil dengan taburan bawang merah goreng. Harga satu porsinya juga murah meriah. Cukup ditebus dengan Rp 2.500.
Kesegaran rasa serupa dapat dinikmati di Soto Seger Mbok Giyem Jl Pandanaran, Boyolali. Sesuai namanya yang berembel-embel ”seger”, maka segarnya kuah kaldu sapi soto dari warung itu juga begitu berdentum-dentum di lidah. Apalagi jika sedikit ditambahi sambal cabai rawit rebus yang segar dan merekah. Kesegarannya akan tambah menggigit.
Bedanya, aroma kesegaran dasar yang tercipta berasal dari daun jeruk purut. Isiannya lebih minimalis, terdiri dari tauge, daun seledri, irisan daging sapi yang cukup tebal dan bawang goreng saja. ”Dan saat merebus tulang sapi untuk kaldu, sama sekali tak dibubuhi lemak. Makanya tambah segar,” tutur salah seorang generasi kedua Sugiyem —pendiri Soto Seger Mbok Giyem, Nafiyatun, berbagi resep.
Selain dari keunikan kesegaran rasa, ada pula soto yang ternama karena menyajikan rasa kuah yang tak berubah sepanjang warung buka. Sebab tak bisa dipungkiri, bahan dasar kuah yang berasal dari tulang belulang dan daging berlemak, akan terasa mengental jika sudah beberapa jam didiamkan.
Di Kota Solo, kekhasan kuah yang tak berubah tersebut ada pada Soto Kirana di Jl Moh Yamin 68B, Kawatan, Solo. Dan memang betul, dinikmati pagi hari atau sore hari, gurihnya kuah yang tersaji bersama nasi, tauge, suun, daging ayam, selederi, daun bawang (loncang), taburan bawang putih kating (kering) goreng dan sambal kecap berpadu cabai yang kental begitu menggoda selera.
Itu pasalnya, sejak buka tahun 1982 dengan harga per porsi Rp 50 —hingga kini Rp 6.500 per porsi— warung soto yang diberi nama sesuai dengan nama anak sulung sang pendiri terus diserbu penikmatnya. ”Konon memang soto kirana yang mengawali membubuhkan bawang putih goreng sebagai taburannya,” ujar pemilik Soto Kirana, Siti Kirana.
Soto Ndelik, Dukuh Sriyatno, Karanggeneng, Boyolali, juga tersohor dengan kelebihan serupa. Dengan isian potongan daging sapi, tauge dan selederi, kuah yang ditawarkan di warung soto ini warnanya sedikit lebih pekat dan terkesan berlemak. Tetapi tak perlu khawatir, saat mulai mencecap kuahnya, lemak-lemak tak akan menempel di bibir. Kuah berlemak semacam kamuflase saja. ”Yang khas di sini pelengkapnya acar mentimun,” tutur si pemilik, Marjono.
Bumbu penyedap
Selain aneka rasa yang menonjol, rahasia tambahan bumbu berupa rempah seperti serai, lengkuas, daun salam, jahe, kunyit dan daun jeruk, juga penting. Salah satunya tambahan tempe yang semangit atau tempe yang sedikit kedaluwarsa.
Seperti yang menjadi ciri khas Soto Ngasem di Jl Raya Kartasura km 3, Sukoharjo. Itu sebabnya, aroma rasa yang menyeruak begitu sedap meskipun rempah yang digunakan lebih sedikit daripada lazimnya bumbu soto, yakni hanya daun salam dan laos. ”Resep soto jawa kuno katanya begitu,” ujar sang pengelola, Narni.
Widodo, pemilik kedai Soto Kwali Pak Joko di Jl Slamet Riyadi, Solo, yang buka sejak petang sampai dini hari, rupanya juga mengadopsi resep yang sama. Membubuhkan tempe semangit sebagai penyedap rasa.
Nuansa klasik rasa soto yang muncul kian memikat setelah bercampur dengan aroma kuali yang berbahan dasar tanah liat. ”Tapi tak perlu banyak-banyak, satu kuali cukup dua potong tempe saja,” saran Widodo.

Oleh: Fetty Permatasari, Esmasari Widyaningtyas

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…