Sabtu, 30 Januari 2010 17:47 WIB News,Kesehatan Share :

Masker dan pembersih tangan cegah penyebaran flu


Apakah anda
ingin mempersiapkan diri menghadapi wabah flu? Anda mungkin perlu menyimpan masker wajah dan pembersih tangan.

Demikian hasil studi di AS. Beberapa peneliti dari University of Michigan mendapati bahwa mahasiswa yang tinggal di gedung permukiman dan memakai masker selama beberapa jam sehari dan secara rutin menggunakan pembersih tangan yang berbahan dasar alkohol mengurangi sampai separuh resiko terserang penyakit seperti influenza.

“Kami benar-benar menduga itu barangkali akan berlaku pada kondisi lain tempat orang tinggal di tempat yang rapat dan makan di instalasi yang sama,” kata Dr Allison Aiello kepada Reuters Health.

“Kita bahkan dapat menghadirkan ini ke ruang rumah tangga,” kata mereka.

Campur-tangan tanpa obat seperti pembersih higienis tangan dan masker wajah tampaknya penting dalam memerangi setiap wabah flu, kata Aiello dan timnya di dalam studi mereka yang disiarkan di dalam Journal of Infectious Diseases.

Mereka mengatakan vaksin wabah H1N1 saat ini lambat tiba dan penggunaan obat anti-virus “terbatas”.

Untuk menyelidiki tindakan apa yang mungkin paling efektif dalam pencegahan penyebaran flu, para peneliti tersebut membagi 1.437 mahasiswa menjadi tiga kelompok, yang dilandasi atas gedung permukiman tempat mereka tinggal.

Satu kelompok memakai masker dan pembersih tangan, kelompok kedua hanya memakai masker wajah, dan kelompok ketiga adalah kelompok pemantau.

Aiello dan timnya melancarkan studi itu segera setelah universitas tersebut mengkonfirmasi kasus pertama  influenza di kampus, tapi terus menerima pendaftaran peserta studi selama dua pekan pertama.

Aiello mengatakan selama dua pekan itu, tak ada perbedaan di kalangan ketiga kelompok tersebut dalam kasus penyakit seperti flu, barangkali karena musim flu baru saja mulai.

Namun selama dua pekan terakhir studi itu, Aiello dan rekannya mendapati mahasiswa yang memakai masker wajah dan pembersih tangan menghadapi kemungkinan 35 persen sampai 51 persen lebih kecil untuk terserang penyakit mirip flu dibandingkan dengan mahasiswa di kelompok pemantau.

Meskipun kelompok yang hanya memakai masker juga kurang mungkin untuk terserang penyakit seperti flu dibandingkan dengan kelompok pemantau, perbedaannya tak mencolok secara statistik.

Aiello mengatakan sebagian studi yang menelitik tindakan guna mencegah penyebaran influenza tak meminta orang mulai menggunakan campur tangan tertentu –seperti masker wajah– sampai seseorang di dalam rumah mereka sudah jatuh sakit.

Ia mengatakan meminta orang menggunakan campur-tangan pada saat awal musim flu adalah tindakan unik di dalam studi saat ini.

“Perbedana rancangan studi ini mungkin telah meningkatkan kemampuan kami untuk mengidentifikasi dampak penggunaan masker dan pembersih higienis tangan, dibandingkan dengan berbagai studi mengenai penularan sekunder, yaitu anggota kelompok mungkin sudah terinfeksi saat masker digunakan,” kata para peneliti tersebut.

ant/isw

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…