Sabtu, 30 Januari 2010 12:02 WIB Lifestyle,Kesehatan Share :

Gemuk, rupa-rupa penyebabnya

Dulu, tubuh tambun dan perut buncit kerap diidentikkan dengan kemakmuran. Makin tambun, makin makmur. Persepsi ini tentunya muncul dari pemahaman sederhana, orang yang banyak uang pasti mampu membeli makanan yang enak dan banyak. Buntutnya, tubuhnya pun tambun.
Tapi itu dulu! Faktanya, kegemaran menimbun lemak di tubuh berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti stroke, jantung koroner, diabetes hingga kanker. “Timbunan lemak berlebihan terutama di bagian sekitar perut dapat mengganggu proses metabolisme dan kinerja organ tertentu,” tutur dr Erna Adi Kuncoro dari Rumah Sakit Panti Waluyo.
Timbunan lemak ini, lanjut Erna, disebabkan ketidakseimbangan antara asupan dengan pembakaran kalori. Pola hidup dan pola makan ala manusia modern yang kurang melakukan aktivitas fisik dan makan sembarangan memperparah keadaan ini. Tapi perilaku semacam itu, bukan satu-satunya pemicu obesitas, faktor genetik dan psikis turut memberi andil dalam proses ini.
“Obesitas cenderung diturunkan, biasanya bila ayah dan ibu mengalami kegemukan, anak-anaknya juga akan mengalami hal yang sama,” imbuhnya. Namun, penting untuk diperhatikan, antara anggota keluarga tidak hanya berbagi gen. Mereka juga saling mempengaruhi gaya hidup dan pola makan yang mendorong terjadinya obesitas.

Bulimia dan binge
Lalu bagaimana dengan faktor psikis? Walau bentuknya abstrak, kondisi psikologis seseorang memiliki pengaruh cukup besar. Orang-orang yang depresi dan stres, rentan dengan gangguan pola makan, seperti bulimia, binge hingga sindroma makan malam hari
Tak seperti bulimia yang penderitanya selalu merasa lapar dan ingin selalu makan namun cenderung memuntahkan kembali makanan yang telah ditelan, gangguan binge justru berbentuk dorongan untuk makan dalam jumlah besar. Sedangkan pada sindroma makan malam hari sebelum tidur, penderitanya memiliki keinginan kuat untuk makan menjelang tidur.
“Biasanya kalau keinginan ini tidak dipenuhi, ia jadi sulit tidur dan gelisah,” kata Erna. Sindroma makan malam hari itu potensial menyebabkan obesitas. Pasalnya saat tidur, proses metabolisme biasanya berjalan lamban. Bila seseorang mendapat asupan kalori dalam jumlah besar menjelang tidur, kalori yang masuk tak akan dibakar sempurna. Alih-alih, kalori itu malah disimpan dalam bentuk cadangan lemak. Inilah yang menyebabkan kegemukan.
Lantas bagaimana seseorang dikategorikan obesitas atau kelebihan berat badan? Secara umum, seseorang digolongkan obesitas bila berat badannya melebihi berat badan ideal. Bila Anda memiliki berat badan 20% hingga 40% lebih tinggi dari berat badan ideal, itu artinya Anda masuk kategori obesitas ringan. Bila kelebihannya mencapai 41% hingga 100% berarti Anda mengalami obesitas tingkat sedang, sementara andai kelebihannya 100% dari berat badan ideal dapat dipastkan Anda tergolong obseitas berat.
Obesitas, juga bisa diketahui dengan menghitung indeks massa tubuh atau body mass index (BMI). BMI dihitung dengan cara membagi bobot tubuh dengan kuadrat tinggi badan dalam hitungan meter. Sebagai contoh, bila tinggi Anda 154 cm dan berat Anda 46 kilogram. Maka BMI Anda dapat dihitung dengan 46 kilogram dibagi dengan hasil perkalian kuadrat 1,54 meter, yaitu 2,3716. Hasilnya 19,39.
Berdasarkan standar internasional, nilai BMI antara 18,5 hingga 22,9 tergolong normal. Seseorang digolongkan obesitas bila nilai BMI-nya mencapai lebih dari 30 poin.

Oleh: Esmasari Widyaningtyas, Fetty Permatasari

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…