Sabtu, 30 Januari 2010 11:45 WIB Lifestyle,Kesehatan Share :

Disfungsi seksual, hasrat pun merosot

Dokter yang baik,
Saya ingin mengonsultasikan masalah kehidupan seks saya. Akhir-akhir ini saya sering merasa kehilangan keinginan untuk berhubungan seks dengan istri saya. Tidak ada masalah keluarga sebetulnya. Toh, kehidupan kami baik-baik saja. Istri saya, 32, dalam kondisi yang sehat. Begitu juga diri saya yang kini berusia 43 tahun. Apakah ini ada kaitannya dengan usia yang terus bertambah? Atau karena pekerjaan saya sebagai wiraniaga yang menuntut kerja hingga larut malam —maklum area pemasaran kami hingga Jatim. Mohon advisnya, Dok. Terima kasih

Roni, Klodran

Bapak Roni yang baik,
Kami turut prihatin dengan kondisi yang Bapak alami. Meskipun tidak terlalu jelas gambaran yang Bapak berikan, namun kami bisa golongkan kelainan yang Bapak alami termasuk disfungsi seksual. Disfungsi seksual atau malfungsi seksual adalah kesulitan selama stadium aktivitas seksual —termasuk minat, rangsangan, orgasme dan resolusi— yang menghalangi individu atau pasangan dalam menikmati hubungan seksual (Wikipedia, 2009).
Bila didefiniskan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006). Respon seksual pada orang dewasa ditandai oleh perasaan subjektif dari hasrat atau nafsu seksual dan perubahan fisiologis pada tubuh, termasuk sistem kardiovaskuler dan genetalia dan kecendrungan —khususnya pada pria— untuk mendapatkan stimulasi seksual sampai terjadi orgasme.
Proses ini merupakan interaksi yang rumit antara kognitif (pemrosesan informasi), mekanisme saraf pusat, termasuk hasrat seksual dan keadaan emosional lainnya dan proses fisiologis perifer seperti ereksi penis pada pria. Untuk kemudahan, maka hal ini disebut psychosomatic circle.
Aktivasi dari sistem psikosomatis ini dapat dimulai pada titik yang bervariasi dari siklus, seperti terjadinya pikiran yang membangkitkan seksualitas, gambar yang merangsang secara seksual, atau perangsangan rabaan terhadap bagian tubuh yang sensitif secara erotis. Komponen pemrosesan informasi mengidentifikasikan seksualitas, suatu proses yang sangat dipengaruhi oleh faktor pembelajaran dan budaya. Mekanisme saraf pusat mengaktifkan sinyal saraf yang berjalan turun melalui batang spinal, sepanjang jalur yang meliputi pusat refleks pada tingkat tertentu dari batang spinal, untuk mencetuskan respons seksual perifer.
Pada pria, disfungsi seksual diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Gangguan dorongan seksual, berupa dorongan seksual hipoaktif dan gangguan aversi seksual; 2) Gangguan ereksi, berupa disfungsi ereksi dan ereksi berkepanjangan; 3) Gangguan ejakulasi, berupa ejakulasi dini dan ejakulasi terhambat; 4) Hambatan orgasme. Klasifikasi disfungsi seksual pada wanita sebagai berikut: 1) Gangguan dorongan seksual, berupa dorongan seksual hipoaktif dan ganggua aversi seksual; 2) Gangguan bangkitan seksual; 3) Hambatan orgasme; 4) Gangguan sakit seksual, berupa dispareunia dan vaginismus serta gangguan sakit seksual nonkoitus (Pangkahila, 2007).
Karena luasnya dan besarnya kemungkinan penyebab kelainan yang Bapak alami,konsultasi dengan dokter merupakan hal terbaik.
Demikian jawaban yang bisa kami berikan,semoga dapat memuaskan Bapak. Terima kasih.

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…