Sabtu, 30 Januari 2010 23:56 WIB Sragen Share :

Bupati berang surplus beras hanya 200.000 ton

Sragen (Espos)–Bupati Sragen Untung Wiyono mempertanyakan data surplus beras di Kabupaten Sragen yang hanya 200.000 ton hingga awal tahun ini. Padahal suplus beras tahun-tahun sebelumnya sudah mencapai 225.000 ton, bahkan sampai 240.000 ton di Bumi Sukowati.

Penegasan Bupati itu disampaikan dengan suara keras di hadapan puluhan petugas penyuluh lapangan (PPL) di bidang pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan di Rumah Dinas Bupati Sragen, Sabtu (30/1).

Hadir dalam pengukuhan Komisi Peyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (KP3K) Sragen itu, Ketua Dinas Pertanian Haryoto, Ketua Badan Pelaksana Penyuluh (Bapeluh) Budi Harjo, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno dan sejumlah praktisi pertanian lainnya.

“Dari mana data surplus beras di Sragen hanya 200.000 ton? Surplus tahun sebelumnya sudah mencapai 225.000 ton, bahkan sampai angka 240.000 ton, tetapi di awal tahun ini justru menjadi 200.000 ton? Perlu ada koreksi angka-angka itu, agar bisa dipertanggungjawabkan. Untuk meningkatkanproduksi padi ini, penyuluh dituntut untuk bekarya. Minimal harus memiliki damplot untuk uji coba pertanian. Jika penyuluh tidak memiliki program itu, maka tidak usah menjadi penyuluh,” tegas Bupati.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Sragen, Haryoto mengatakan, data yang disampaikan kepada Bupati itu memang ada kesalahan, mestinya data itu berasal dari data surplus tahun 2008 tetapi dimasukan di tahun 2009 setelah ada revisi dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Menurut dia, perhitungan di BPS tidak hanya jumlah produksi dikurangi dengan jumlah konsumsi, tetapi juga dikurangi dengan jumlah kebutuhan untuk benih padi dan sebagainya, sehingga angkanya berkurang.

”Dari data tahun 2008 ada sekitar 230.000 ton/tahun, 2009 meningkat menjadi 235.000 ton/ tahun. Nah, target tahun 2010 ini diharapkan surplus beras mencapai 250.000 ton, karena untuk target surplus gabah saja mencapai 500.000 ton lebih. Jika dikonversi dari gabah ke beras, jumlah rendemennya berkisar antara 66%-70%. Kami optimistis target itu bakal tercapai, karena di tahun ini ada peningkatan produktivitas mencapai 6,1 ton/hektare,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Haryoto, produktivitas padi pada tahun sebelumnya yang ditarget bisa 5,8 ton/hektare, ternyata realisasinya bisa mencapai 6,0 ton/hektare. Dengan adanya jaminan pupuk yang memadai, Haryoto berkeyakinan bakal memenuhi target itu. Dia mengaku hambatannya hanya persoalan perubahan iklim saja.

trh

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…