Sabtu, 30 Januari 2010 19:49 WIB News Share :

100 Kabupaten masih rawan pangan

Mataram– Menteri Pertanian, Ir H Suswono MMA, mengungkapkan, kini ada 100 kabupaten dari 346 kabupaten di Indonesia yang masih dikategorikan rawan pangan.

“Dari 100 kabupaten rawan pangan itu, lima diantaranya ada di wilayah NTB yakni Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lomok Timur, Dompu dan Kabupaten Bima,” kata Suswono di sela-sela kunjungannya di wilayah NTB, Sabtu.

Dalam kunjungannya di wilayah NTB Suswono menyerahkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) kepada pemerintah daerah.

Indonesia telah memiliki FSVA sejak tahun 2005 dan terus dilakukan perubahan sesuai kondisi riil.

Suswono mengatakan, penanganan 100 kabupaten rawan pangan itu diklasifikasikan dalam tiga kategori yakni sangat mendesak, sedang dan tidak mendesak atau belum mengkhawatirkan.

Kategori sangat mendesak meliputi 30 kabupaten yakni di seluruh wilayah Papua dan sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT), kategori sedang 30 kabupaten yakni NTT, Kalimantan Barat dan Maluku, dan kategori tidak mendesak sebanyak 40 kabupaten yang meliputi sebagian kabupaten di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan NTB.

Namun, Suswono menegaskan bahwa kondisi rawan pangan yang masih mengancam ratusan kabupaten itu bukan karena kekurangan stok pangan, melainkan faktor penyebab lainnya yang tersimpulkan dalam lima aspek.

Kelima aspek itu yakni angka kemiskinan, akses terhadap kelistrikan yang memengaruhi perekonomian, tingkat pertumbuhan anak, akses jalan bagi kendaraan roda dua dan akses air bersih.

“Meski stok pangan mencukupi tetapi tidak diakses masyarakat yang bermukim di daerah tertentu maka wilayah kabupaten itu dikategori rawan pangan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Suswono menjelaskan perkiraan kondisi surplus padi di tahun 2010 meskipun ada gejala El Nino di akhir tahun 2009 dan Mei mendatang.

Pada tahun 2010 ini akan ada panen padi pada lahan seluas 500 ribu hektare yang menyebar di berbagai wilayah di Indonesia.

“Akan dihasilkan 1,1 juta ton padi yang dipanen pada Pebruari mendatang dan 1,2 juta ton di bulan Maret 2010,” ujarnya.

Suswono juga mengungkapkan bahwa diakhir tahun 2009, Bulog mencatat sejarah yakni menyisahkan beras sebanyak 1,7 juta ton atau sisa beras di bulan Desember 2009 yang tidak terpakai dan mengendap selama tuuh bulan.

Selain itu, terdapat 500 ribu ton beras cadangan pemerintah yang mengendap di gudang Bulog juga karena tidak terpakai atau adanya kondisi surplus beras.

“Sekali lagi, masih adanya ratusan kabupaten rawan pangan bukan karena stok kurang melainkan akses terhadap bahan pangan yang belum maksimal sehingga perlu ditempuh upaya nyata,” ujarnya.

ant/isw

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…