Jumat, 29 Januari 2010 16:38 WIB News Share :

Santri Ponpes di Pekanbaru dikeroyok senior

Jakarta–Perilaku kurang terpuji dilakukan sekelompok santri Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam di Pekanbaru, Riau. 10 Santri ponpes milik mantan anggota DPR RI yang tersandung korupsi, Bulyan Royan, itu babak belur dikeroyok para seniornya.

Mereka yang menjadi korban adalah para santri yang duduk di kelas II SMA. Mereka dihajar 16 orang seniornya kelas III tanpa alasan yang jelas hingga babak belur. Malah salah satu santri mengalami pecah pembulu darah mata.

“Waktu dikeroyok, saya sudah minta minta maaf dan minta ampun pada mereka. Tapi malah semakin banyak yang memukuli saya. Malah diancam jangan berteriak, kalau berteriak akan dihajar lebih parah lagi,” tutur seorang korban yang identitasnya minta disembunyikan kepada wartawan, Jumat (29/1) di Pekanbaru.

Korban mengaku, mereka sama sekali tidak mengetahui alasan para senironya melakukan pengeroyokan. Peristiwa ini terjadi pada Rabu (20/1) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.  Korban yang waktu itu tengah tidur pulas, dibanguni salah seorang seniornya. Korban diminta menghadap para senironya di ruang asrama.

Saat santri itu sampai ruangan asrama, sudah mengumpul para santri senior. Tanpa basa basi, para santri senior lantas memberikan bogem mentah. Setelah babak belur, korban disuruh keluar ruangan dan diminta memanggil rekan mereka sesuai nama yang diminta para seniornya.

Satu demi satu, hingga pukul 03:00 dini hari, para junior silih berganti menerima penganiayaan. Mereka tidak boleh menceritakan pada siapapun atas kejadian malam itu. Namun keesokan harinya, salah satu  di antara mereka saat jam belajar di bagian kepalanya masih meneteskan darah.

Dari sinilah, guru yang mengajar pada waktu itu meminta santrinya untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Awalnya para korban tidak bersedia menceritakan apa yang mereka alami. Mereka khawatir akan mendapat penganiayaan kembeli dari seniornya.

Tapi karena guru meminta mereka bersumpah dibawah Al Quran, akhirnya para korban pengeroyokan menceritakan apa yang mereka alami. Dari sana para guru menghubungi orangtua murid.

Ketua Yayasan Ponpes Babussalam, Ismail Royan, tidak menampik adanya kejadian tersebut. Menurutnya, pihaknya sudah memanggil para orangtua korban dan orangtua pelaku pengeroyokan. Kedua belah pihak sudah dimintai keterangannya oleh pihak Ponpes.

“Para orangtua korban meminta semua pelaku pengeroyokan dikeluarkan dari Ponpes. Satu sisi, orangtua para pelaku, bersedia menerima sanksi dari pihak Ponpes asal jangan anak mereka dikeluarkan mengingat waktu ujian akhir sudah dekat,” kata Ismail Royan.

Atas berbagai pertimbangan itu, kata Ismail, pihaknya memberikan kesempatan kepada para guru untuk mengevaluasi para pelaku. Nantinya hasil evaluasi ini akan menentukan apakah santri masih dapat dibina atau memang harus menerima hukuman untuk dikeluarkan.

“Jika memang hasil evaluasi masih bisa mereka dibina tentu tidak dikeluarkan. Tapi bila hasil evaluasi para guru ada santri yang memang tidak bisa lagi untuk dibina, nantinya akan kita kembalikan kepada orangtuanya,” kata adik Bulyan Royan itu.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…