Kamis, 28 Januari 2010 17:19 WIB Solo Share :

Demo 100 Hari SBY-Boediono di Solo berlangsung tegang


Solo (Espos)-
-Gelombang aksi unjuk rasa memperingati 100 Hari Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono di Solo terus memadati Bundaran Gladak, Kamis (28/1).

Aksi ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Warga Solo (Awas) pun diwarnai ketegangan antara aparat keamanan dengan sejumlah pengunjuk rasa.

Berdasar pengamatan Espos, insiden tersebut bermula saat belasan personel pengendali massa (Dalmas) Poltabes Solo menyita ban bekas milik pendemo. Ketika itu, pengunjuk rasa sedang ancang-ancang membakar ban di dekat patung Slamet Riyadi sekitar pukul 11.00 WIB, sebagai puncak aksi.

Belum juga ban dibakar, belasan personel Dalmas bergerak cepat dan langsung membawa ban bekas ke Poslantas. Beberapa pengunjuk rasa yang merasa kecolongan pun langsung mengejar aparat ke pos polisi. Di depan Poslantas terjadi adu argumengasi antara Wakapoltabes Solo AKBP A Marhaendra yang memimpin pengamanan aksi, dengan perwakilan pengunjuk rasa.

Pengunjuk rasa berdalih agenda pembakaran ban sebatas simbolisasi dari aksi protes yang dilakukan. Namun permintaan pendemo ditolak tegas Wakapoltabes yang dikawal beberapa personel polisi dan anjing keamanan yang terus menyalak.

Mendapat perlakuan tegas, pendemo berang lantas mengultimatum supaya polisi tidak melakukan tindakan provokasi. Beruntung aksi demo yang diikuti oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-UNS, BEM Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), BEM Staimus, BEM Universitas Kristen Surakarta (UKS), aktivis Universitas Veteran (Univet), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), KAMMI, PMII serta Masakhi itu, berlangsung relatif aman. Presiden BEM UNS, Bery Nur Arif di sela-sela aksi menyampaikan, dalam 100 hari pemerintahannya, Presiden SBY mendapat rapor merah.

kur

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…