Rabu, 27 Januari 2010 21:58 WIB Klaten Share :

Alat di pintu air Bendung Wantil hilang, warga lapor polisi

Klaten (Espos)--Setelah kasus hilangnya sejumlah drat kuningan di pintu air Bendung Wantil di Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu mencuat, kini giliran kelengkapan pintu air Bendung Bagor di Kecamatan Juwiring mengalami kejadian serupa. Sebanyak tiga drat kuningan di Bendung Bagor diketahui raib, Rabu (27/1).

Selain itu, as besi pada pintu air rusak dan terdapat bekas gergaji pada ujungnya yang tersisa. Kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah. Mantri Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kecamatan Juwiring, Santoso, mengungkapkan, saat melakukan pengecekan rutin pada pagi hari, dirinya kaget melihat as besi pintu air Bendung Bagor terlihat janggal.

“Setelah saya teliti, as tersebut terpotong dan terdapat bekas gergaji pada ujungnya. Selain itu, tiga drat yang terbuat dari kuningan sudah lenyap dari tempatnya,” jelasnya ketika dijumpai di Bendung Bagor kemarin. Dia menambahkan, kejadian itu sudah dilaporkannya ke DPU Klaten, Pemdes, Pemerintah Kecamatan serta kepolisian setempat.

Menurut Santoso, pintu air yang kelengkapannya hilang memasok air bagi lahan pertanian seluas 451 hektare di lima desa di Kecamatan Juwiring, yakni Desa Juwiring, Kwarasan, Kenaiban, Bolo Pleret dan Bulurejo. Dia menjelaskan, pintu air yang menuju jaringan irigasi dalam keadaan terbuka sehingga pasokan air ke sawah petani sementara ini masih aman.

Dipaparkan olehnya, raibnya sejumlah kelengkapan itu membuat pintu air sulit dikontrol. Namun jika pintu air itu dibutuhkan untuk ditutup atau dibuka lagi sewaktu-waktu, masih bisa diupayakan secara manual dengan mengerahkan petani. Santoso menuturkan, satu hal lagi yang perlu diantisipasi adalah penumpukan endapan di sungai dan jaringan irigasi.

Sementara, salah seorang petani yang sawahnya mendapat aliran air dari Bendung Bagor, Irmadi, 40, menguraikan, kejadian itu membuat dirinya resah.

rei

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…