Senin, 25 Januari 2010 21:57 WIB Wonogiri Share :

Pengelolaan Wisata Sendang Asri WGM tuai kritik


Wonogiri (Espos)–
Objek wisata Sendang Asri Waduk Gajah Mungkur (WGM) mendapatkan kritikan pedas dari Komisi II DPRD Wonogiri karena tidak memiliki spesifikasi sama sekali.

Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) setempat diminta lebih giat menggaet investor untuk mengembangkan objek wisata tersebut.

Demikian kesimpulan dari hasil inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan Komisi II DPRD Wonogiri ke objek wisata Sendang Asri WGM, Senin (25/1).

Dalam dialog yang diadakan setelah melakukan peninjauan lokasi, salah satu anggota Komisi II, Martanto mengatakan, saat ini, objek wisata Sendang Asri WGM tak ubahnya seperti sendang besar biasa. Hampir tak ada spesifikasi maupun keistimewaan tersendiri.

“Aset utama objek wisata ini kan sudah jelas, air. Itu bisa dikembangkan menjadi daya tarik spesifik, misalnya paket wisata perahu atau yang lainnya. Dalam hal ini Pemkab perlu mendatangkan investor besar,” jelas Martanto.

Anggota lainnya, Ahmad Zarif dan Dangi Darmanto menyoroti perlunya Disbudparpora mengevaluasi sumber pendapatan mana saja yang mengalami peningkatan pada 2009 lalu. Hal itu agar ke depan sumber-sumber itu bisa ditingkatkan.

Kepala Disbudparpora, Bambang Haryadi yang juga hadir dalam Sidak tersebut mengungkapkan, minimnya anggaran yang dialokasikan untuk bidang pariwisata dalam RAPBD 2010 membuat pihaknya hanya bisa melakukan perbaikan fasilitas di objek wisata Sendang Asri Waduk Gajah Mungkur (WGM), khususnya di bagian kolam renang, dengan menambahkan waterboom dan sebagainya.

Dari sisi pendapatan, lanjut Bambang, objek wisata Sendang Asri WGM sebenarnya memperoleh hasil yang cukup signifikan pada 2009 lalu. Dari target yang ditetapkan senilai Rp 735 juta, tercapai Rp 1,011 miliar. Namun, rupanya tidak cukup banyak hal yang bisa dilakukan dengan pendapatan itu.

shs

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Memaknai Imlek, Memulihkan Bumi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (15/2/2018). Esai ini karya Hendra Kurniawan, dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menekuni kajian sejarah Tionghoa. Alamat e-mail penulis adalah hendrayang7@tgmail.com. Solopos.com, SOLO–Syahdan ketika Dinasti Qing runtuh dan mengakhiri sejarah…