Minggu, 24 Januari 2010 16:49 WIB Solo Share :

Kapoltabes bakal undang koordinator Bonek

Solo (Espos)–Ketakutan banyak kalangan akan terjadinya kerusuhan saat rombongan suporter klub sepak bola Persebaya, bondo nekat alias Bonek, melintas di Solo, benar-benar terbukti.

Lebih dari 2.000-an warga Solo yang bergerombol di sejumlah titik sepanjang rel kereta api (KA), bersiap menyambut Bonek yang datang menumpang kereta luar biasa (KLB) dari Bandung. Saling lempar batu tak bisa dihindarkan. Tercatat jatuh dua korban luka, satu orang di antaranya merupakan wartawan dan yang lain warga setempat.

Seribuan petugas kepolisian yang berjaga di sepanjang rel KA pun tidak bisa berbuat banyak.
Selain itu, enam personil kepolisian yang disiagakan di masing-masing gerbong juga gagal mencegah aksi lembar para Bonek.

Kepoltabes Solo, Kombes Pol Joko Irwanto, ditemui wartawan, di Stasiun Jebres, Minggu (24/1), mengakui pihaknya telah melakukan upaya semaksimal mungkin mencegah saling serang antara warga dan Bonek. Namun, saling serang tetap terjadi, sehingga jatuh dua korban.

Kapoltabes menyebut, akan menindaklanjuti kejadian kemarin dengan mengundang pengelola Bonek untuk diklarifikasi.

“Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, jangan ada warga yang menyerang. KA juga tidak berhenti sama sekali di Solo, tapi nyatanya masih ada saling serang. Nanti kita selesaikan, kami akan koordinasi dengan pengelola Bonek. Kami undang, untuk kami mintai klarifikasi,” kata Joko Irwanto.

Sementara itu, pantauan di Stasiun Jebres, Minggu, warga telah berkumpul sejam sebelum KLB yang rencananya mengangkut Bonek melintas. Mereka terkonsentrasi sekitar 300 meter di timur stasiun, siap dengan beberapa batu dan helm untuk melindungi kepala.

Begitu KA melintas, sekitar pukul 09.30 WIB warga melempar batu ke arah KA. Dari dalam KA, beberapa Bonek juga melempar batu ke arah warga. Padahal KA berjalan dengan kecepatan tinggi, sekitar 80 km/jam.

Kasi Operasional PT KA Daop VI Yogyakarta, Soetrisno, ditemui di Jebres, menyebutkan ribuan Bonek diangkut kembali ke Surabaya secara bergelombang. Pada gelombang pertama, dua KA melintas di Stasiun Jebres antara pukul 08.30-09.30 WIB. KLB yang melintas pada pukul 09.30 WIB mendapat serangan paling parah dari warga. Kereta tersebut diduga merupakan KA ekonomi dengan 10 gerbong.

Soetrisno mengakui PT KA menderita kerugian besar atas akasi brutal tersebut. Paling tidak hal itu tampak dari rusaknya kaca KA akibat lemparan batu.

“Kami belum menghitung kerugiannya, yang jelas pasti rugi. Mereka rencananya diangkut dengan KA secara bergelombang, dua pada pagi hari dan dua lagi pada siang hari,” urai dia.

tsa

lowongan pekerjaan
Fila Djaya Plasindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…