Sabtu, 23 Januari 2010 22:18 WIB Wonogiri Share :

Puluhan rumah di Selogiri rawan longsor

Wonogiri (Espos)–Puluhan rumah di empat desa di Kecamatan Selogiri berada di bawah bayang-bayang ancaman longsor akibat kondisi ujung jurang yang kritis. Perlu dilakukan upaya penyelamatan segera dengan memasang pengendali ujung jurang untuk mencegah longsor tersebut.

Petugas Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL) Kecamatan Selogiri, Kaiman SP, didampingi rekannya, Bahagiato, saat ditemui di sela-sela acara gerakan penghijauan dan penanaman pohon di depan kantor kecamatan setempat, Jumat (22/1) mengungkapkan, masing-masing dari empat desa dimaksud yaitu Kepatihan, Pare, Jendi dan Keloran, terdapat kurang lebih 15 ujung jurang yang kritis.

Sementara di bawahnya terdapat permukiman maupun areal persawahan dan kebun penduduk. Berbagai upaya, menurut Kaiman, telah dilakukan, mulai dari melakukan penghijauan dan penanaman pohon. Bahkan, sejak beberapa tahun terakhir telah mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri, anggaran untuk memasang pengendali ujung jurang berupa beronjong kawat untuk menahan ujung jurang itu agar tidak longsor. Namun, hingga kini, usulan itu belum mendapat tanggapan.

“Sementara ini upaya kami, ya, mengajak masyarakat untuk melakukan penghijauan di lahan-lahan tersebut, termasuk di lahan kering yang di Kecamatan Selogiri ini totalnya mencapai 651 hektare, tersebar di Pare, Kepatihan, Keloran, Sendangijo dan Jendi,” ujar Kaiman.

Camat Selogiri, Bambang Haryanto, ditemui di lokasi yang sama, kemarin, mengungkapkan, sebagai wilayah yang sebagian merupakan daerah perbukitan, Selogiri menjadi daerah yang rawan bencana, tidak hanya longsor, tetapi juga banjir, angin topan, dan sebagainya. Bambang mengatakan, pihaknya bahkan sudah melakukan pemetaan, mana yang termasuk daerah rawan banjir, rawan longsor dan sebagainya, sehingga bisa cepat dalam melakukan langkah antisipasi.

“Bagi penduduk yang berada di sekitar ujung jurang yang kritis tersebut, setiap cuaca rawan, kami langsung memerintahkan kepala desa beserta perangkatnya untuk memperingatkan warga agar mengungsi ke tempat yang aman,” jelas Bambang.

Tak hanya itu, Bambang mengatakan, pihaknya juga mengeluarkan imbauan kepada pemerintah desa agar mencantumkan kegiatan menanam pohon sebagai sanksi atas pelanggaran peraturan desa (Perdes) yang dibuatnya. Kepada generasi muda diajarkan untuk melakukan gerakan penghijauan dengan menghijaukan sekolah-sekolah.

Mengenai kegiatan kemarin, Bambang mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan salah satu pabrik jamu di Wonogiri, yaitu PT Deltomed, menanami pohon lahan di pinggir jalan Wonogiri-Solo mulai dari Kaliancar sampai Nambangan, dengan tananam keras. Terlihat ada pohon salam yang ditanam kemarin pagi.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan contoh kepada masyarakat bahwa kalau perangkat desa dan kecamatan saja mau melakukan penghijauan, mestinya masyarakat juga tidak akan segan-segan. Dalam kegiatan ini, kami melibatkan juga dari Polsek Selogiri dan PKL,” tuturnya.

shs

lowongan pekerjaan
PT.SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…