Kamis, 21 Januari 2010 13:58 WIB News Share :

Pengamat
Pemerintah selamatkan Century karena panik

Jakarta–Pengamat ekonomi dari Econit Advisory Group, Hendri Saparini menilai bahwa sikap pemerintah yang menyelamatkan Bank Century pada November 2008 lebih karena panik dan khawatir akan terjadi dampak krisis moneter seperti tahun 1998.

“Krisis finansial pada 2008 berbeda dengan krisis yang terjadi pada 1998, sehingga meskipun Bank Century tidak diselamatkan tidak akan berdampak sistemik,” kata Hendri Saparini ketika menyampaikan pendapatnya pada rapat Panitia Angket Kasus Bank Century di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (21/1).

Hendri Saparini bersama Ichsanuddin Nooersy dan Chatib Basri diundang Pansus sebagai saksi ahli dalam kapasitas sebagai ahli ekonomi.

Dijelaskannya, krisis finansial pada 2008 tidak menimbulkan dampak sistemik karena kondisi perbankan nasional sudah lebih kuat dibandingkan dengan kondisi tahun 1998, meskipun sama-sama mengalami shock.

“Belajar dari krisis tahun 1998, pemerintah melakukan banyak penataan sehingga kondisi perbankan nasional lebih kuat,” katanya.

Kalau pemerintah melakukan penyelamatan terhadap Bank Century, katanya, karena didasarkan pada pendekatan psikologi pasar yang dikhawatirkan menjadi panik sehingga sehingga melakukan rush.

Menurut dia, sikap pemerintah yang menyelamatkan Bank Centiry itu juga panik.

Pendapat berbeda dilontarkan Chatib Basri yang mengatakan keputusan pemerintah menyelamatkan Bank Century sudah tepat.

Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengatakan, keputusan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia pada rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik, karena saat itu dalam situasi krisis.

“Jika satu bank saja kolaps maka akan menurunkan kepercayaan publikterhadap perbankan nasional, sehingga bisa terjadi efek domino,” katanya.

ant/fid

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…