Kamis, 21 Januari 2010 16:51 WIB News Share :

Penderita HIV di Salatiga naik 7 kasus, 1 meninggal dunia

Salatiga (Espos)–Jumlah penderita HIV di Kota Salatiga pada awal tahun 2010 meningkat tujuh kasus dengan satu kasus diantaranya telah meninggal dunia.

Dari tujuh kasus tersebut, empat kasus diantaranya adalah heteroseksual ( orang yang berganti-ganti pasangan), tiga lainnya merupakan pengguna Narkoba suntik.

Sementara total penderita HIV di Kota Salatiga yang terdeteksi hingga saat ini mencapai 103 kasus, dengan komposisi 60 laki-kaki, 43 wanita. Angka tersebut menempatkan Kota Salatiga di peringkat ketujuh daerah dengan penderita HIV terbanyak se-Jateng.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Salatiga, dr Errytrina, mengungkapkan tambahan kasus positif HIV di awal tahun itu diketahui berdasarkan laporan pihak RSUD Salatiga dan Klinik VCT di Puskesmas Sidorejo Lor. Dari tujuh penderita tersebut, empat diantara perempuan.

“Sementara penderita yang meninggal itu adalah pengguna Narkoba suntik (Penasun), masih usia produktif (25-30 tahun). Sedangkan dua lain diantaranya adalah pekerja seks komersial,” jelasnya, Kamis (21/1) di kantornya.

Secara akumulasi, jumlah penderita HIV yang telah meninggal hingga saat ini mencapai 32 orang. Menurut Errytrina, kasus HIV ini seperti fenomena gunung es. Semakin banyak kasus yang terungkap, merupakah sebuah keberhasilan yang selanjutnya sebagai dasar untuk penanganan.

Wanita yang juga menjabat sebagai Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan salatiga tersebut menambahkan saat ini kota berhawa sejuk ini sudah memiliki pelayanan Care Support and Treatment yang bertempat di RSUD Salatiga. Di pelayanan yang mulai diluncurkan pada 7 januari lalu ini, merupakan pelayanan pengobatan ARV (anti retroviral) bagi penderita HIV. Pemberian ARV dilakukan secara cuma-cuma. ARV ini diberikan jika sel kekebalan tubuh penderita kurang dari 250.000. ARV berfungsi untuk mengendalikan pertumbuhan virus HIV.

kha

lowongan pekerjaan
PT. Lemindo Abadi Jaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…