Selasa, 19 Januari 2010 17:41 WIB News Share :

Jabar tolak daging sapi asal China

Bandung–Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat, Koesmayadi TP mengatakan Jawa Barat tidak akan menerima daging impor dari Cina meski sudah berlaku perdagangan bebas ASEAN Cina sejak 1 Januari 2010.

“Ada prosedur khusus untuk impor daging dari luar negeri yakni melalui karantina. Pemberlakukan ACFTA tidak serta merta daging sapi Cina langsung masuk ke pasaran di Jabar,” kata Koesmayadi di Bandung, Selasa (19/1).

Ia menyebutkan Cina merupakan salah satu negara yang menghasilkan daging sapi seperti halnya India. Namun bukan negara yang mendapat lisensi mengekspor ke Indonesia.

Pihaknya akan melakukan pengawasan intensif untuk mengantisipasi masuknya daging sapi dari Cina secara ilegal ke pasar-pasar di Jabar.

Kepala Dinas Peternakan Jabar itu mengakui, sebagian besar atau sekitar 85 persen kebutuhan daging di Jawa Barat tergantung pasokan dari luar daerah termasuk daging sapi impor. Sedangkan produksi daging sapi lokal hanya mencukupi 15 persen kebutuhan saja.

Pasokan daging sapi dari luar daerah kebanyakan dipasok dari Jatim dan Jateng. Sedangkan impor dilakukan hanya untuk daging sapi dari empat negara yakni Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Kanada.

Setiap tahun Jabar mengimpor 1.634,5 ton daging sapi atau setara dengan 161.807 ekor.

“Impor daging sapi ke Indonesia hanya dari empat negara itu, daging dari luar negara itu ditolak. Ini terkait dengan ketentuan karantina,” katanya.

Koesmayadi menyebutkan, sapi yang masuk ke Indonesia wajib masuk ke karantina sebelum didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan pasokan.

“Proses karantina dilakukan secara ketat selama beberapa hari sebelum didistribusikan, hal itu untuk mastikan sapi impor itu tidak berpenyakit. Di jalur distribusi juga dilakukan pengecekan di cek point,” kata Koemayadi,

Ia menyebutkan, beberapa penyakit sapi yang diantisipasi itu antara lain sapi gila, cacing hati serta beberapa penyakit hewan lainnya.

ant/fid

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…