Selasa, 12 Januari 2010 21:09 WIB Issue Share :

Rating bukan jaminan mutu tayangan televisi

Solo (Espos)–Tingginya rating pada sebuah program televisi tidak bisa menjadi jaminan kualitas atau mutu tayangan tersebut. Hal itu diakui sejumlah pengamat televisi dan film serta mahasiswa  Program Studi Televisi dan Film, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dalam Seminar Televisi dan Film bertajuk  Epitimologi Tayangan Televisi Indonesia (Antara Gambaran dan Kenyataan), Selasa (12/1), di Ruang Seminar ISI Solo.

Di sela-sela acara itu, dosen Studi Televisi dan Film, ISI Solo, Drs Achmad Sjafi’i MSn menyatakan, mayoritas program yang ditampilkan di televisi saat ini hanya mementingkan keuntungan. Sehingga, kualitas serta nilai edukasi dengan mudah dinomorduakan.

“Memang sebagian besar tayangan televisi condong sebuah bentuk hiburan, tapi hiburan juga bisa dikonsep secara cerdas dan edukatif, serta memperhatikan etika,” urai Sjafi’i kepada Espos.

Industri dunia hiburan, lanjut Sjafi’i, dengan perlahan namun pasti menggiring dan memaksa pelaku seni untuk menampilkan tayangan yang bisa menarik perhatian penonton sebanyak-banyaknya. Dengan hanya mengejar tingginya rating tanpa memperhatikan esensi mutu tayangan itu, segala bentuk daya tarik hingga sensasi lantas sering dijadikan bumbu yang harus dimunculkan pada program yang mereka buat.

“Rating seolah sudah menjadi patokan sukses dan tidaknya tayangan televisi. Itu lah gambaran industri hiburan sekarang ini. Padahal belum ada jaminan kalau rating-nya selangit karena yang nonton banyak berarti kualitas tayangan itu juga bagus,” tegasnya.

Dengan fenomena semacam itu, maka tak mengherankan justru tayangan yang berkualitas tinggi bisa tergeser dengan tayangan yang banyak mendatangkan iklan dan sponsor. Selain itu, Sjafi’i juga menyayangkan maraknya aksi plagiasi program televisi dalam negeri.

hkt

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…