Selasa, 12 Januari 2010 14:10 WIB Internasional Share :

AS "kutuk keras" tindakan Iran adili pengikut Baha'i


Washington–
Amerika Serikat (AS) “mengutuk keras” keputusan Iran untuk mengadili tujuh anggota agama terlarang, Bahai, dengan tuduhan melakukan kegiatan mata-mata buat musuh bebuyutan Iran, Israel.

“Amerika Serikat mengutuk keras keputusan pemerintah Iran untuk memulai pengadilan mata-mata terhadap tujuh pemimpin masyarakat Bahai Iran,” kata jurubicara Departemen Luar Negeri AS PJ Crowley dalam satu pernyataan, Senin (11/1).

“Pemerintah telah menahan orang-orang ini selama lebih dari 20 bulan, tanpa memberi bukti terbuka yang memberatkan mereka dan nayris tak memberi mereka akses ke pengacara hukum,” katanya.  Crowley menambahkan Teheran bertanggung jawab atas keselamatan Bahai selama penahanan mereka.

“Semua orang ini berhak memperoleh proses yang layak. Hak bagi proses pengadilan yang adil termaktub di dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,” katanya.

Jaksa penuntut Teheran Abbas Jaafari Dolatabadi, Sabtu, mengatakan ketujuh terdakwa tersebut akan diadili pekan ini di ibukota Iran, Teheran. Ia menambahkan mereka ditangkap “karena mereka memainkan peran dalam mengatuh protes Asyura dan karena telah mengirim gambar mengenai kerusuhan tersebut ke luar negeri”.

Rezim Iran telah meningkatkan penindakan atas oposisi menyusul protes berdarah anti-pemerintah pada 27 Desember, selama peringatan Asyura, ketika delapan orang tewas.

Kelompok garis keras sekarang menuduh pemrotes menentang rezim dan pimpinan di Republik Islam itu.

Wanita jurubicara tahanan Bahai menolak tuduhan bahwa mereka menyimpan senjata di rumah mereka.

“Kami sangat prihatin mengenai penghukuman yang sedang berlangsung di Iran atas pengikut Bahai dan perlakuan terhadap anggota lain pemeluk agama minoritas yang terus menjadi sasaran semata-mata atas dasar kepercayaan mereka,” kata Crowley.

Komisi AS mengenai Kebebasan Beragama Internasional, satu lembaga resmi tak-memihak yang memberi saran kepada pemerintah, mengecam Iran pekan lalu karena “menjelek-jelekkan” pengikut Bahai setelah kerusuhan baru-baru ini.

Pengikut Bahai, yang didirikan di Iran pada 1863, dipandang sebagai orang kafir dan menghadapi penghukuman baik sebelum maupun setelah Revolusi Islam 1979.

Bahai menganggap Bahaullah, yang dilahirkan pada 1817, sebagai “nabi terakhir” yang dikirim Tuhan, ajaran yang bertentangan dengan Islam, agama mayoritas warga Iran, yang menyatakan Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir.

ant/isw

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…