Jumat, 8 Januari 2010 10:39 WIB Ekonomi Share :

2010, Kredit Soloraya ditarget tumbuh 18%-20%

Solo (Espos)–Bank Indonesia (BI) Solo memprediksi kredit di Soloraya tahun 2010 bisa tumbuh berkisar 18% hingga 20%.
Prediksi ini, disampaikan Pemimpin BI Solo, Dewi Setyowati, sedikit berada di atas prediksi pertumbuhan kredit nasional yakni 17% hingga 20%.

“Kalau kredit nasional diprediksi tumbuh di atas 17%, atau 17% hingga 20%, Solo ambil 18% hingga 20%,” tutur Dewi, saat ditemui Espos di sela-sela Peresmian Hutan Ketapang di UMS Solo, Kamis (7/1).

Kendati demikian, lanjutnya, prediksi ini akan dievaluasi lagi pada semester I. Jika, pertumbuhan kredit pada semester I berada pada posisi yang kurang memuaskan, maka target pertumbuhan 18% itu akan direvisi. Tetapi, jika cukup bagus maka target dan prediksinya akan tetap sama.

Optimisme pertumbuhan kredit ini juga tidak lepas dari pencapaian pertumbuhan kredit selama tahun 2009. Di mana, pertumbuhan kredit 2009 Soloraya berada di atas pertumbuhan kredit nasional, yakni 15% sementara kredit nasional tumbuh 4,8% per November 2009.

Di satu sisi, proyeksi pertumbuhan kredit ini juga dibayangi adanya perdagangan bebas Asean-China Free Trade Agreement (AC-FTA). “Ini yang perlu segera diantisipasi.” BI dan perbankan akan mendorong agar dunia usaha Soloraya tidak mengalami kemunduran. Ia menyampaikan kebijakan nasional terkait AC-FTA ini harus segera diinformasikan secara jelas sampai ke daerah-daerah. Sehingga, daerah pun bisa segera menyiapkan langkah dan strategi menghadapi perdagangan bebas tersebut.

Terkait hal ini, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Soloraya, Baningsih Bradach Tedjokartono menyampaikan bahwa selama ini pengusaha di daerah belum pernah diajak bicara oleh pemerintah terkait penerapan AC-FTA. “Termasuk upaya dan siasat apa yang bisa dilakukan pelaku usaha untuk menghadapi dampak negatif dari AC-FTA itu. Sementara, kami hanya tahu itu dari media. Beda dengan pengusaha di tingkat pusat yang punya banyak akses ke pemerintahan di tingkat pusat.”

Ditambahkanya, sampai saat ini pun Apindo belum menyiapkan strategi khusus. “Sehingga memang perlu ada tatap muka antara pemerintah dengan pengusaha di daerah untuk membahas AC-FTA.”

Dewi menambahkan, dari realisasi kredit di Soloraya, kredit investasi relatif paling minim dibanding kredit modal kerja dan konsumsi. “Karena memang untuk kredit-kredit besar ini sudah dibackup perbankan di tingkat pusat.” Sementara, terkait peluang kredit untuk usaha kecil dan menengah (UKM), ditambahkan Dewi, justru diprediksi akan tumbuh lebih baik dari kredit UKM 2009.  Jika kredit UKM tahun 2009 memakan porsi 70,17% dari total kredit, maka BI memproyeksikan tahun 2010 kredit UKM ini bisa berada pada porsi 80% hingga 90%.

haw

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…