Kamis, 31 Desember 2009 12:25 WIB News Share :

Frans Seda, mantan Menkeu yang menolak monopoli Bulog

Jakarta–Mantan Menteri Keuangan Franciscus Xaverius Seda (Frans Seda) tutup usia pada Kamis (31/12). Selain seorang politikus, Frans juga dikenal sebagai ekonom yang terkenal karena pernah mengusulkan penghapusan monopoli Bulog.

Lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926, Frans dikenang sebagai seorang politikus, menteri, tokoh gereja, pengamat politik, dan pengusaha Indonesia.

Posisi yang pernah dijabatnya dalam pemerintahan antara lain adalah Menteri Perkebunan dalam Kabinet Kerja IV (1963-1964) dan Menteri Keuangan Kabinet Ampera (1966-1967) dan Kabinet Ampera yang disempurnakan (1967-1968) sewaktu awal Orde Baru, serta Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973) dalam Kabinet Pembangunan I.

Sebagai ekonom senior, Frans adalah salah satu pihak yang mendukung Undang-Undang Anti Monopoli pasca koreksi IMF terhadap RAPBN 1998/1999 saat dihapuskannya monopoli Bulog, kecuali atas komoditi beras.

Menurutnya, UU Anti-Monopoli mutlak diperlukan agar tidak ada lagi pihak yang mengatur dan menentukan distribusi produk hingga menentukan harga jual.

“Badan yang mengatur dan menentukan distribusi produk semacam itu harus dilarang. Hal itu termasuk monopoli, karena dengan demikian badan tersebut akhirnya dapat menentukan harga,” katanya seperti dikutip dari wawancara Tempo pada (30/01/1998) silam.

Menurutnya, monopoli itu ada dua macam. Pertama, monopoli yang diakibatkan oleh peraturan. Kedua, monopoli yang natural, yang hanya terjadi ketika satu pihak menjadi satu-satunya penyuplai barang tersebut.

Ia menilai, kedua bentuk monopoli tersebut membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan. “Karena nasib masyarakat luas hanya ditentukan oleh satu atau dua orang. Hal semacam ini tidak boleh terjadi. Kemungkinan untuk terjadi penyalah-gunaan jabatan besar,” tegasnya.

Meski demikian, ia mendukung monopoli distribusi beras yang dilakukan oleh Perum Bulog. Menurutnya, beras adalah kebutuhan dasar bagi masyarakat luas. Beras termasuk kategori komoditi politik yang berpengaruh terhadap nasib banyak orang.

“Cukup (monopoli) beras saja, karena itu kebutuhan pokok. Sebenarnya yang lebih penting adalah bukan pada produknya. Tetapi bagaimana menjaga tindak-tanduk para pelaku bisnis, agar perilaku mereka tidak lagi melahirkan monopoli, atau kompetisi yang tidak sehat,” ungkapnya.

Di pengunjung tahun 2009, Frans Seda berpulang selang sehari dari kepergian mantan Presiden Andurrahman Wahid alias Gus Dur.

Pada era Orde Baru mendiang pernah menjabat sebagai menteri perhubungan. Namun, karena sikapnya yang keras terhadap rezim Soeharto ia akhirnya dikesampingkan.

Selanjutnya, di dua dekade terakhir masa Orba, mendiang lebih dikenal sebagai kolumnis kritis untuk bidang ekononomi dan politik. Ia juga menjadi tokoh di balik perjuangan Megawati Soekarnoputri menahan tekanan rezim otoriter Soeharto.

Di zaman Bung Karno Fran Seda adalah ketua Partai Katolik, menteri perkebunan dan menteri keuangan. Di dunia pendidikan Frans Seda meninggalkan Universitas Katolik Atma Jaya sebagai warisan.

Frans Seda meninggal dalam usia 83 tahun. Sebelumnya dia mengeluh ada masalah di kerongongan. Frans juga sering melakukan fisioterapi. Selama Fisioterapi, Frans Weda menjalani aktivitasnya dengan kursi roda  dengan ditemani seorang suster. Frans akan akan dimakamkan di pemakaman umum San Diego, Karawang pada 2 Januari 2010.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…