Rabu, 30 Desember 2009 14:40 WIB News Share :

Hasyim
Persoalan infotaiment harus segera diselesaikan

Jakarta–Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menegaskan, persoalan “infotainment” merupakan masalah nasional yang harus segera diselesaikan karena menyangkut martabat dan moralitas bangsa.

“Yang diharamkan oleh sebagian ulama adalah konten atau isi “infotainment” yakni “ghibah” (membicarakan keburukan orang lain.red) dan “namimah” (menghasut atau mengadu domba sehingga menimbulkan permusuhan-red),” katanya di sela acara Pertemuan Nasional Tokoh Ormas Islam dan Lembaga Dakwah di Jakarta, Rabu (30/12).

Menurut dia, ada dua hal yang harus dicermati yakni adanya korban untuk keluarga yang digosipkan dan tayangan itu mengajari kejelekan kepada publik.

“Publik diajarkan bahwa masalah selingkuh, cerai, gosip tidak apa-apa,” kata Hasyim Muzadi.

Dampak dari tayangan infotainment yang seperti itu, katanya, sangat luar biasa di masyarakat, seperti naiknya angka perceraian menjadi 10 kali lipat, serta kecenderungan seks bebas tak tertahankan.

“Celakanya berbagai kejelekan yang ditimbulkan dari tayangan “nfotainment’ itu justru dinikmati oleh pemilik modal yang hanya beberapa orang saja,” ujarnya seraya mengingatkan, tidak mudah melawan “infotainment” karena ada bisnis besar di belakangnya.

Meski demikian, KH Hasyim Muzadi mendorong dilakukannya langkah konkret berupa koordinasi dengan seluruh ormas Islam serta para tokoh lintas agama untuk membahas masalah itu.

“Ini (isi tayangan infotainment) dilarang semua agama, bukan hanya Islam,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, pembahasan soal infotainment juga harus melibatkan DPR , Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) serta pihak terkait lainnya.

“Ini masalah nasional yang harus segera diselesaikan. Agama lain juga mendukung, dan ini adalah gerakan moral nasional,” katanya.

Ada positifnya

Sementara itu, di tempat yang sama, Dirjen Bimas Islam Depag Prof Dr Nasaruddin Umar MA mengatakan, tidak semua tayangan “infotainment” isinya negatif.

“Semua yang negatif harus dihentikan, tetapi kan ada juga yang positif, seperti artis ibadah, berdakwah dan sebagainya. Selain itu, banyak penyanyi dan grup band yang menciptakan lagu-lagu religius yang bagus untuk umat,” katanya.

Nasaruddin sependapat bahwa hal-hal negatif seperti menggunjing, membuka aib orang, dan adu domba, harus ditinggalkan namun hal yang positif bisa dikembangkan.

“Agama mana pun tidak senang dengan gunjingan, membuka aib orang, atau mengadu domba. Depag menyikapi aspirasi masyarakat dengan memfasilitasi konsolidasi pimpinan umat,” katanya.

Ant/tya

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…