Selasa, 29 Desember 2009 11:46 WIB News Share :

Tak revisi tulisan, LKBN Antara ancam somasi George

Jakarta–Buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Kasus Bank Century’ menjadi bola panas di akhir tahun ini. Perum LKBN Antara menyiapkan langkah hukum somasi kepada George Junus Aditjondro yang dalam bukunya menuding kantor berita nasional itu mengalihkan sebagian dana PSO (Public Service Obligation) Antara untuk Bravo Media Centre (BMC).

”Itu sama sekali tidak benar, karena secara substansi dan teknis tidak mungkin pengalihan dana itu dilakukan. Kami minta Aditjondro merevisi buku itu dan meminta maaf karena telah menyebarkan informasi bohong dan menyesatkan. Kalau tidak, kami akan ambil langkah hukum somasi,” kata Dirut Perum LKBN Antara Dr Ahmad Mukhlis Yusuf dalam pernyataan tertulis yang diterima Selasa (29/12).

Direksi LKBN Antara sudah membaca dan membahas substansi buku tersebut, khususnya yang terkait dalam tuduhan pemanfaatan PSO LKBN Antara untuk Bravo Media Center. George menulis bahwa separuh dari dana PSO LKBN Antara yang berjumlah Rp 40,6 miliar mengalir ke Bravo Media Center, salah satu tim kampanye SBY-Boediono. Direksi berkesimpulan informasi tiga halaman (hal 29-31) tersebut tidak ada kebenarannya alias fitnah belaka.

”Tidak ada uang satu sen pun yang dialihkan ke Bravo Media Center. Kalau uang miliaran rupiah itu betul dialihkan, wartawan dan karyawan Antara tidak gajian,” katanya.

Untuk itu, katanya, bagian hukum BUMN itu sedang menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan termasuk langkah hukum somasi. Antara menuntut Aditjondro minta maaf dan merevisi bukunya yang akan dilaunching pada akhir tahun ini.

Mukhlis menjelaskan mekanisme pencairan dana PSO ANTARA dilakukan sebagai pergantian biaya (reimbursement) atas sebagian dana operasianal Antara terhadap tema-tema liputan yang disepakati dengan penyelenggara negara setiap tahun. Jadi penggunaan dana PSO Antara tidak mungkin dialihkan”.

Pada kesempatan lain, Direktur Komersial dan IT Rully Ch Iswahyudi LKBN Antara menyatakan dirinya  tidak pernah terlibat dalam pengelolaan Bravo Media Center saat Pilpres 2008. Sedangkan dalam keterkaitannya sebagai Tim Sukses SBY-Boediono, Rully sudah mengundurkan diri sebelum pelaksanaan kampanye Pilpres 2009. Hal itu sebagaimana tertuang dalam notulen Rapat Direksi pada 9 Juni 2009.

Dalam notulen tersebut dijelaskan bahwa Rapat mendengar penjelasan Direktur Komersial dan IT yang sedang cuti, dan secara khusus dipanggil mengikuti rapat guna diberitahukan hasil rapat dengan Dewan Pengawas yang meminta direksi menindaklanjuti status Direktur Komersial dan IT dalam tim sukses calon Presiden SBY-Boediono.

Direktur Komersial dan TI menyampaikan, belum mengetahui statusnya secara resmi di tim Kampanye SBY-Boediono, dan selanjutnya menanyakan hal itu kepada Ketua Tim, Hatta Rajasa, setelah itu akan menentukan sikap, apakah mundur dari Tim Kampanye SBY-Boediono atau mundur dari Direktur Komersial dan TI Perum LKBN Antara.

Setelah menghubungi Hatta Rajasa, Direktur Komersial dan TI memastikan bahwa ia terdaftar di tim kampanye SBY-Boediono, dan memutuskan akan mundur dari Tim Kampanye SBY-Boediono tersebut. Surat pengunduran dirinya dibuat segera,  ditujukan kepada Ketua Tim Kampanye SBY-Boediono.

Ketua Serikat Pekerja Antara, Theo Yusuf, yang juga wartawan senior Antara menjelaskan bahwa tidak benar ada keresahan di kalangan wartawan seperti dinyatakan George Aditjondro dalam bukunya. “Karyawan dan wartawan mendukung langkah pembenahan manajemen yang sedang dilakukan Direksi sejak tahun 2007, dalam penataan SDM, penguatan sistem dan pembenahan bisnis perusahaaan”, ujarnya.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…