Selasa, 29 Desember 2009 15:51 WIB News Share :

Sidang pembunuhan Nasrudin, butuh 3-4 ribu peluru untuk latihan gunakan revolver

Jakarta--Seorang penembak amatir akan menghadapi kesulitan besar bila menggunakan senjata api (Senpi) jenis revolver. Dibutuhkan 3-4 ribu butir peluru untuk latihan menggunakan senpi yang sama hingga mahir.

“Minimum 3-4 ribu butir peluru untuk latihan, untuk menyesuaikan senjata dan hentakannya. Kalau nggak sering, nggak mungkin bisa,” kata saksi ahli senjata dan amunisi Roy Haryanto.

Hal itu dikatakan pria yang juga atlet olah raga menembak itu dalam sidang kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa mantan Ketua KPK Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Selasa (29/12).

Roy dihadirkan oleh kubu Antasari untuk menyanggah dakwaan jaksa yang menyebut Daniel Daeng Sabon sebagai penembak Nasrudin. Pistol yang digunakan untuk membunuh suami Rhani Juliani pada 14 Maret lalu itu berjenis revolver S&W kaliber 38.

Nasrudin ditembak saat berada di mobil sedan BMW setelah bermain golf di Modern Land, Tangerang, Banten. Daniel menembakkan peluru ke kepala Nasrudin sambil membonceng motor Yamaha Scorpio yang ditunggangi Heri.

Menurut Roy, amatiran tidak akan bisa menembak target dalam jarak dekat dengan menggunakan revolver yang hentakannya lebih keras dibanding senjata laras panjang. Apalagi bila sasaran dan penembak sama-sama dalam kondisi bergerak.

Dilihat dari posisi sepeda motor yang lebih tinggi, imbuh Roy, tembakan yang dilepaskan akan cenderung mengarah ke bawah. Sebuah tembakan yang terhalang oleh kaca juga tidak akan menghasilkan serpihan peluru.

“Kondisinya susah. Tapi kalau dibilang orang beruntung, ya, beruntung,” tandasnya.

Pengacara Antasari Ari Yusuf Amis mengatakan, kesaksian Roy menunjukkan bahwa penembak Nasrudin adalah orang yang profesional. Tidak mungkin pelaku amatiran atau baru saja belajar menembak.

“Intinya ahli meragukan penembaknya itu Daniel,” tandasnya.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…