Selasa, 29 Desember 2009 15:04 WIB Sport,Lifestyle,Kesehatan Share :

Gangguan kulit

Atlas van Indische Geneeskrachtige Planten Bij Wenken en Raadgevingen Betreffende Het Gebruik Van Indische, Vruchten Enz yang disusun J Kloppenburg-Versteegh pada permulaan abad XX mencatat, sejak seabad silam, orang Indonesia telah memiliki sejumlah resep yang mengoptimalkan khasiat berbagai tanaman setempat.

Gangguan kulit
Banyak orang menderita gatal atau sakit pada kulit jika terkena zat-zat tertentu. Beberapa orang sangat peka dan yang lainnya kurang peka. Bulu daun tanaman, duri dan sebagainya juga dapat menyebabkan gatal semacam ini. Sebagai contoh getah ingas sangat berbahaya. Getah kroton hanya berbahaya jika kena luka yang terbuka. Yang beracun adalah getah sirih berbintik yang ditanam sebagai tanaman hias, getah jambu monyet, kayu urip dan berbagai tanaman lain.

Kulit gatal
Remasan daun sidaguri dicampur dengan sedikit minyak kelapa dioleskan pada tempat-tempat yang sakit dan kulit sesekali dicuci dengan seduhan daun tersebut.
Daun koro diremas-remas, dicampur dengan kapur sirih dan dioleskan pada tempat yang gatal. Selain daun koro, dapat juga menggunakan daun ranti jawa. Seringkali penggunaan obat dalam untuk membersihkan darah memberi hasil yang lebih baik. Dalam hal demikian dianjurkan makan tang kwe.

Kulit panas
Rasa panas pada kulit dapat dikurangi dengan menggosokannya dengan kentang mentah.

Kulit kering
Kulit kering dapat diatasi dengan masase dengan kulit jeruk bali.

——

Ingas atau rengas (Gluta renghas Linn)
Pohon besar yang terdapat di Jawa Barat dan tersebar di seluruh Nusantara, umumnya di daerah muara sungai. Kayunya berat dan keras, dapat dipakai untuk pembuatan perahu. Pohon ini ditakuti penduduk karena getahnya beracun dan dapat menyebabkan radang pada kulit meskipun tidak sehebat seperti getah rengas putih.

Jambu monyet (Anacardium malaccensis Linn)
Jenis jambu yang kurang baik. Getah buahnya dapat menyebabkan radang kulit yang hebat. Setelah makan buah ini sering terjadi pengejanan.

Kayu urip (Euphorbia tirucalli Linn)
Semak ini banyak digunakan sebagai pagar. Penampilannya yang aneh menyebabkan tanaman ini lebih mirip dengan tanaman laut daripada tanaman darat. Hampir tidak berdaun. Jika batangnya sedikit saja terluka, batang ini langsung mengeluarkan banyak getah, yang jika masuk dalam tubuh akan menjadi racun. Nama lain adalah patah tulang atau tikel balung.

Sidaguri (Sida rhombifolia Linn)
Tanaman kecil dengan bunga berwarna oranye yang tumbuh di antara rumput padangan. Akar dikunyah untuk mengatasi sakit gigi. Getah jangan ditelan karena mempunyai daya pengeluaran yang besar sehingga dapat menyebabkan abortus dan kematian. Pengembangan dengan biji.

Koro (Dolichos lablab Linn)
Tanaman merambat yang menghasilkan polong yang jika masih muda dapat dimakan sebagai sayur. Koro yang sudah tua dapat dimakan setelah direbus atau disangrai. Daunnya merupakan makanan ternak yang sangat baik. Jenis kacang ini dan jenis-jenis kacang lainnya memegang peran penting dalam makanan kita. Terdapat beberapa varietas koro. Jenis liar dengan bunga cemerlang yang terdapat di hutan biasanya beracun. Varietas yang dapat dimakan yang biasanya ditanam, mempunyai biji berwarna putih, coklat, hitam atau bebrintik. Sebaiknya jangan makan koro terlalu banyak atau terlalu sering, terutama bagi mereka yang bekerja dengan otak, karena dapat menyebabkan pusing kepala.

Ranti Jawa (Solanum cerasiforme Dun)
Tanaman tomat yang tumbuh liar dan terdapat di Jawa, Sumatra, Nusatenggara dan Maluku. Buahnya tidak lebih besar daripada kelereng, rasanya lumayan dan sarinya dapat diminum.

Tang kwe
Manisan buah bligo yang dikeringkan. Dapat dipakai sebagai pengganti sukade. Tang kwe merupakan makanan yang sehat bagi anak-anak.

——
Sumber: Atlas van Indische Geneeskrachtige Platen oleh J Kloppenburgh-Vesteegh, 1911. Alih bahasa oleh drh J Soegiri dan Prof Nawangsari, IPB Press, 2006

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…