Senin, 28 Desember 2009 16:08 WIB News Share :

Jembatan Tritis Baru ambrol, perencaaan dan pengawasan DPU jadi penyebab


Salatiga (Espos)–
Kasus ambrolnya Jembatan Tritis Baru di Kelurahan Sidrejo Kidul, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga Kamis pekan lalu bukan semata-mata kesalahan CV Sinar Jati selaku rekanan, namun juga akibat kurangnya perencanaan dan minimnya pengawasan dari DPU. Meski demikian, sudah selayaknya rekanan yang tidak mampu mengerjakan proyek dengan baik dan sesuai rencana di blacklist dan tidak diberi proyek di kemudian hari.

Anggota Komisi III DPRD Kota Salatiga, Suniprat, mengungkapkan demikian, Senin (28/12). Ia mengatakan buruknya perencanaan proyek oleh DPU yang tak mempertimbangkan jadwal sehingga baru dilaksanakan menjelang akhir tahun menjadikan pelaksanaan pekerjaan tidak optimal karena terbatasnya waktu. Rekanan cenderung untuk segera menyelesaikan pekerjaan tanpa mempertimbangkan kualitas pekerjaan.

“Hampir seluruh proyek akhir tahun pengerjaannya tidak baik,” ungkapnya ketika ditemui di Gedung DPRD Kota Salatiga.

Senada dengan Suniprat, Wakil Ketua DPRD M Fathurrahman mengungkapkan perlu ada ketegasan dari dinas/intansi terkait menyangkut perlakuan terhadap rekanan nakal. Politisi asal PKS ini menyatakan DPU harus berani memasukkan rekanan nakal ke dalam daftar blacklist.

Terpisah, Kepala DPU Kota Salatiga, Tri Susilo Budi mengakui pengawasan sejumlah proyek yang ditanganinya lemah, termasuk proyek pembangunan jembatan Tritis Baru. Hal ini lantaran menyangkut keterbatasan jumah SDM yang dimiliki DPU.

Secara teknis, proses pembangunan jembatan yang dilakukan rekanan tidak sesuai dengan perencanaan. Salah satunya pada pembesian dengan campuran yang tidak sesuai, serta konstruksi beton yang tidak beres. Faktor terbatasnya waktu pun, diakuinya, menjadi salah satu penyebab mengapa rekanan terburu-buru untuk segera menyelesaikan pekerjaan.

“Harusnya timbunan tanah tidak dilakukan sekaligus seperti itu, namun bertahap. Setiap satu lapin timbunan dipadatkan, kemudian ditimbun lagi dan dipadatkan,” tukasnya.

kha

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…