Senin, 28 Desember 2009 15:38 WIB News Share :

50 Orangutan Kalimantan akan dilepaskan ke alam bebas


Palangkaraya–
Sebanyak 50 ekor orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus yang selama ini menghuni Pusat Reintroduksi Orangutan Nyarumenteng (PROU) Palangkaraya, Kalimantan Tengah, segera dilepaskan ke alam bebas.

“Tahun depan rencananya akan dilepaskan ke alam bebas (dilepasliarkan) 50 orangutan yang telah kami didik agar mampu bertahan hidup di alam bebas,” kata Kepala Komunikasi dan Edukasi PROU Nyarumenteng Untung, di Palangkaraya, Senin (28/12).

Untung mengatakan, 50 ekor orangutan itu sebelumnya merupakan orangutan jinak yang selama bertahun-tahun dipelihara warga dan kemudian diserahkan atau disita petugas untuk dididik menjadi liar kembali di Nyarumenteng.

Secara keseluruhan, jumlah orangutan di Nyarumenteng baik yang masih jinak maupun liar mencapai 600 ekor, dengan 50 diantara siap dilepasliarkan tahun depan.

Sejak berdiri, Nyarumenteng belum pernah melakukan kegiatan pelepasliaran orangutan hasil didikan dari jinak menjadi liar meski telah berulang kali melakukan translokasi puluhan ekor orangutan ke alam bebas.

“Translokasi itu dilakukan untuk orangutan yang memang sejak awal sudah liar, yang terpaksa kami tangkap karena habitatnya tergusur perkebunan, sehingga tidak perlu dididik lagi. Orangutan ini yang kemudian kami pindahkan habibatnya ke hutan yang masih aman,” jelasnya.

Nyarumenteng saat ini juga masih mendidik ratusan ekor orangutan jinak, termasuk 48 ekor sitaan dari Thailand, agar menjadi liar sehingga pada saatnya nanti juga siap dilepaskan, dengan harapan per tahun dilepas sebanyak 100 ekor.

“Target yang harus kami capai adalah pada tahun 2017 mendatang tidak ada lagi orangutan yang hidup di pusat rehabilitasi. Semuanya harus sudah di alam bebas,” jelas Untung.

“Untuk mendidik orangutan menjadi liar kembali butuh waktu sekitar dua kali lipat dibandingkan masa jinaknya. Jadi bila telah jinak selama dua tahun, butuh waktu empat tahun untuk menjadikan liar kembali,” kata Untung.

ant/isw

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…