Sabtu, 26 Desember 2009 20:49 WIB News Share :

Gara-gara utang Rp 4 juta, Dadan-Yanti tega telantarkan 4 anak

Depok–Dadan dan Yanti, suami istri warga Sukmajaya, Depok, yang menelantarkan 4 anaknya, belum diketahui keberadaannya. Menurut tetangga, pasangan suami istri tersebut memang kerap bermasalah.

Informasi mengenai tabiat Dadan dan Yanti itu diungkapkan, Sadianto,35, salah satu tetangga pasangan tersebut. Sadianto tinggal di rumah petak di sebelah rumah petak yang dikontrak Dadan, Jl SMP Segara RT 003/001, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sukmajaya, Depok.

Sadianto menuturkan, Dadan menjadi tetangganya sejak 3 Desember 2009 lalu. Saat pertama kali mengontrak, Dadan bersama keempat anaknya, Windy,8, Rizki,5, Lina,3 dan seorang bayi perempuan (4 bulan). Istrinya, Yanti, baru datang seminggu kemudian.

Menurut Sadianto, Dadan bekerja sebagai sopir angkot. Pria tersebut jarang terlihat sebab pulangnya selalu larut malam. Meski agak tertutup, Dadan selalu membalas sapaan warga.

“Saya juga tidak pernah mendengar mereka bertengkar. Hubungan Dadan dan keluarganya, termasuk anak-anak, wajar saja. Dia tidak pernah marah-marah yang berlebih,” ungkap Sadianto, Sabtu (26/12).

Sampai akhirnya pada tanggal 14 Desember 2009, datang seorang pegawai sebuah Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) ke rumah pasangan tersebut, sekitar pukul 11.00 WIB. Namun entah mengapa, melihat kedatangan pegawai PJTKI itu Yanti pergi lewat pintu belakang. Sedangkan Dadan masih bekerja.

Meski tak ditemui tuan rumah, pegawai PJTKI tidak langsung pergi. Dia memilih untuk tetap tinggal dan menunggu Dadan. Penantiannya tidak sia-sia. Sebab tak lama kemudian Dadan pulang.

“Tapi saat melihat pegawai PJTKI itu Dadan juga pergi. Ada tetangga yang melihat Dadan jalan dengan tergesa-gesa,” ujar Sadianto.

Menurut Sadianto, melihat sikap Dadan dan Yanti yang janggal itu, para tetangga kemudian mencoba bertanya pada pegawai PJTKI tersebut. Akhirnya pegawai PJTKI itu mengatakan pihaknya telah memberikan uang Rp 4 juta kepada Yanti. Uang tersebut sebagai uang tinggal karena Yanti akan bekerja di luar negeri.

Namun kenyataannya, setelah mendapatkan uang itu, Yanti tak juga bersedia berangkat. Karena itulah akhirnya pihak PJTKI berinisiatif mendatangi rumahnya.

“Mungkin Dadan dan Yanti takut uangnya ditagih kembali,” ujar Sadianto.

Pasca kepergian Dadan dan Yanti, sambung Sadianto, warga terpaksa merawat keempat anak pasangan tersebut. Mereka bergotong-royong mengumpulkan dana untuk memberi makan dan susu kepada anak-anak tersebut. Beruntung anak bungsu pasangan itu yang masih bayi tidak rewel.

Dikatakan Sadianto, sebenarnya seorang pria yang mengaku kerabat Dadang pernah datang menengok keempatnya. Pria tersebut mengaku akan mengambil anak-anak Dadan. Namun setelah duduk persoalan yang menyebabkan Dadan dan Yanti pergi, pria tersebut tak jadi membawa pergi anak-anak Dadan.

“Dadan memang biasa menipu. Jadi tidak heran kalau keempat anaknya terlantar seperti ini,” ujar Sadianto, menirukan omongan kerabat Dadan tersebut.

Sadianto yakin Dadan dan Yanti belum pergi jauh. Sebab beberapa waktu lalu, Yanti masih terlihat di sekitar daerah itu.

“Bahkan belum lama ada wanita yang datang kemari. Namun saat tahu anak-anak sudah dibawa ke Panti Asuhan, wanita itu buru-buru pergi. Mungkin wanita itu disuruh Yanti untuk menengok anak-anaknya,” ujar Sadianto.

Sudianto mengatakan, warga setempat merasa kehilangan keempat bocah tak berdosa itu. Sebab sebelum dibawa ke Panti Asuhan, mereka sudah terlanjur dekat.

Dari pantauan, rumah kontrakan Dadan dan Yanti cukup sederhana. Kontrakan tersebut berukuran sekitar 3 X 8 meter. Bagian dalamnya terdiri dari 3 sekat, yakni ruang tamu, kamar tidur dan dapur.

Melalui kaca jendela, tidak terlihat aneka barang-barang atau perabotan rumah tangga di dalam rumah bercat biru muda itu. Hanya ada sebuah sebuah lemari pakaian kayu yang sudah usang dan dispenser air mineral.

Warga setempat mengaku tidak mengenal dengan baik siapa Dadan dan Yanti. Mereka hanya tahu, Dadan berasal dari Citeureup, Bogor.
dtc/tya

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…