Kamis, 24 Desember 2009 12:36 WIB Solo Share :

Penataan Ngarsapura telan dana Rp 11,39 m

Balaikota (Espos) — Penataan koridor Ngarsapura selama dua tahun terakhir akhirnya rampung. Tuntasnya penataan kawasan itu bakal ditandai dengan sebuah pergelaran bertajuk Wedatama Ginelar, Jumat (25/12) malam.
Menurut data Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo, penataan kawasan Ngarsapura selama dua tahun terakhir, menelan dana hingga Rp 11,39 miliar. Sebagian besar anggaran itu, yakni senilai Rp 7,71 miliar tersedot untuk penataan tahap pertama, yang meliputi pembangunan Pasar Ngarsapura dan relokasi puluhan pedagang yang menempati kios sepanjang Jl Diponegoro dan Jl Ronggowarsito.
Sekretaris DTRK Solo, Ahyani, dalam jumpa pers, Rabu (23/12), mengatakan penataan koridor Ngarsapura membutuhkan waktu dua tahun. Pada tahun pertama, penataan difokuskan untuk menyiapkan lokasi, merelokasi pedagang dan membangun Pasar Ngarsapura. Sedangkan pada tahun 2009, penataan diarahkan untuk revitalisasi koridor Ngarsapura, meliputi pembangunan pedestrian, penanaman sejumlah pohon serta pemasangan street furniture. Untuk tahap kedua ini, penataan Ngarsapura digelontor dana APBD senilai Rp 3,68 miliar. ”Semua sudah ditata, dan termasuk street furniture sudah terpasang.”
Mengenai kemasan acara, Kabag Humas dan Protokol Pemkot Solo, Kusdiarto menguraikan seremonial peresmian koridor Ngarsapura ditandai dengan pembukaan tirai yang sebelumnya menyelimuti depan koridor dan penandatanganan prasasti oleh Walikota Solo. Selanjutnya, dia meneruskan, sepanjang Jl Diponegoro hingga depan Mangkunegaran akan menjadi arena pentas seni.
Pentas akan melibatkan 200 orang yang menyajikan aneka macam seni, mulai breakdance yang digandrungi anak muda, hingga tarian Jawa. Beragam kesenian yang ditampilkan itu, menurut sutradara Wedatama Ginelar, Hanindawan, merupakan refleksi perubahan kondisi masyarakat. Konsep tersebut, jelasnya, mengambil makna puisi Jawa, Wedatama, yang diperkirakan ditulis semasa Mangkunagoro IV, sekitar tahun 1853-1881.  tsa

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…