Espos/Burhan Aris Nugraha
Senin, 21 Desember 2009 10:37 WIB Solo Share :

PT Aksara Solopos luncurkan O

Espos/Burhan Aris Nugraha

Espos/Burhan Aris Nugraha

Ibu muda itu mengernyitkan kening. Dia mengamati lagi koran yang ditenteng “pengasong” berseragam putih-biru di perempatan Nonongan, Solo, Senin (21/12).

“Yang benar aja, Mas! Masak koran harganya Rp 1.000?” tanyanya. Tanpa banyak bicara lagi, ibu muda itu pun langsung merogoh sakunya dan ia tukarkan satu koran bergambar artis cabtik Ratu Felisha pada kovernya. “Eh, namanya koran apa ini?” tanya si ibu lagi sebelum benar-benar berlalu.

“Koran O, Bu!” jawab sang pengasong. Seorang penjual jamu beras kencur yang berhenti di Perempatan Nonongan, juga terperanjat setelah mengetahui harga koran yang ditawarkan para pengasong dadakan hari itu. Meski mengaku jarang baca koran, namun warga Sukoharjo itu tertarik juga untuk membelinya

“Uang Rp 1.000 ternyata dapat koran baru ya?” komentarnya.

Seorang penarik becak yang biasa mangkal di perempatan Nonongan, yang semula tidur pulas di becaknya pun mendadak bangun. Ia ikut penasaran dengan ulah orang-orang muda yang menenteng koran untuk dijajakan.

“Lha kok Rp 1.000?. Beritanya apa saja?” tanyanya sambil membolak-balik isi koran. Dan tanpa memakan waktu lama, penarik becak yang berpenghasilan tak menentu itu pun ikut merogoh saku.

Saat terbit perdana, koran O memang dijual langsung oleh para karyawan SOLOPOS. Puluhan karyawan disebar di berbagai titik di Kota Solo. Karuan saja, berbagai kisah menarik mewarnai aksi penjualan. Hasil penjualan diberikan kepada pengasong koran yang biasa mangkal di kawasan setempat.

Ada karyawan yang hanya berhasil menjual beberapa koran, ada juga yang melampaui target. Yus Mei Sawitri, misalnya. Wartawan olahraga ini bisa menjual lebih dari 10 eksemplar. “Horee… punyaku dah habis semua,” ujarnya girang ketika koran terakhir di tangannya dijual.

“Halamannya memang sedikit, jadi korannya tipis. Tapi isinya komplet. Jadi tetap menarik,” komentar seorang pembaca koran O, Arip, di daerah Nonongan.

Pembeli lainnya, Rohmadi, mengatakan, “Koran baru, jadi ingin tahu isinya seperti apa.”
Seorang pengecer yang biasa berjualan di perempatan tersebut, Armi, 37, berharap berita-berita yang ditampilkan di halaman depan koran O adalah berita-berita yang menarik. “Sehingga orang-orang tertarik untuk membeli,” ujarnya.
tsa/ewt/asa

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…