Senin, 21 Desember 2009 13:55 WIB News Share :

Burhanudin nilai pengawasan BI lemah

Jakarta–Mantan Gubernur BI Burhanudin Abdullah merasa pengawasan Bank Indonesia (BI) sebelum dirinya  menjadi Gubernur BI sangat lemah. Hasilnya, Bank sekecil Century bisa menjadi masalah perbankan yang baru terungkap sekarang.

“Pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia lemah, Century buktinya,” kata Burhan dalam rapat konsultasi pansus angket Century di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/12).

Burhan memang mengaku menandatangani merger tiga bank cikal bakal Century (Pico, CIC, dan Danpac). Namun dirinya heran dengan pengambilan keputusan petinggi BI sebelumnya. ” Pada tahun 2001 tidak jelas siapa pemilik Bank Pico dan Bank Danpac. Bank tersebut karena sangat kecil menjadi tidak penting,” papar Burhan.

Burhan menilai, masih banyak Bank yang lebih menguntungkan. Dan kalau pun ada masalah, Bank ini seharusnya diutamakan. “Ada 13 Bank yang selalu memberikan keuntungan sampai Rp 3 Triliun kalau itu. Mandiri, BRI, BNI, BCA, Danamon, Panin, Niaga, Bukopin, Permata, dan lainnya,” beber Burhan.

Skandal Century disebutnya merusak reputasi perbankan Indonesia. “Perbankan Nasional dalam kondisi baik. Sementara, ini (Century) ibarat nila setitik yang merusak susu sebelanga,” kata
Burhan.

Sekali lagi Burhan menegaskan bahwa mekanisme merger yang menjadikan lahirnya Bank Century diputus kala dia masih menjabat menteri perekonomian di masa pemerintaha Gus Dur. “Sudah diputuskan dalam rapat Dewan Gubernur tahun 2001,” tutupnya.
dtc/tya

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…