Minggu, 20 Desember 2009 21:12 WIB Solo Share :

Kaum intelektual tak mesti sosok berdasi

Solo (Espos)–Seorang intelektual seharusnya mampu menjawab persoalan masyarakat dengan cara melakukan pribumisasi ilmu pengetahuan. Tanpa usaha itu, upaya menjawab persoalan masyarakat akan sulit dilakukan.

Hal itu disampaikan salah satu pembicara, Muhammadun AS, dalam Temu Kaum Muda bertema Meninjau Perjalanan Intelektual Muda di Indonesia di Balai Soedjatmoko, Solo, Minggu (20/12).

Ia menguraikan seorang intelektual seharusnya laksana sebuah pohon yang akarnya menancap kuat di bumi, tapi cabangnya bergelantungan di ruang angkasa. Artinya kaum intelektual seharusnya mampu memberikan kemanfaatan besar.

”Dia adalah sosok yang berguna atau mampu mencerdaskan orang lain serta mampu menyukseskan orang lain,” ujarnya.

Upaya melakukan pribumisasi ilmu pengetahuan, lanjutnya, harus dilakukan dengan terjun ke bawah, membela hak-hak orang-orang kecil dan mampu memberikan kontribusi secara jelas.
Pembicara lainnya, Munawir Aziz, mengungkapkan saat ini tipologi intelektual belum memiliki standar yang jelas. Belum ada standar moral yang jelas untuk menempatkan kaum intelektual
sebagai tokoh yang terhormat atau sebaliknya.

Pembicara lainnya, Adi Himawan, menyebutkan kaum intelektual sesungguhnya tidak hanya sosok yang berdasi dan mampu berbicara secara runtut. Namun, ujarnya, gerak zaman telah membingkai intelektual muda dalam kebekuan mendefinisikan arah dan tata nilai. Kaum intelektual kehilangan daya kritis untuk mengkonstruksi cita-cita, nilai dan harapan. Tidak semua kaum intelektual mampu melihat kompleksitas persoalan masyarakat.

”Saat ini tantangan kaum intelekktual sejati semakin berat. Tak sedikit sarjana atau ilmuwan yang terjerumus oleh godaan kekuasaan. Daya kritis kaum intelektual dilumpuhkan dalam pasungan kepentingan kekuasaan dan penguasa. Padahal kaum intelektual seharusnya menjadi kekuatan antitetis kekuasaan,” urainya.

Pembicara lainnya yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Mahfud Anshori, berpendapat sebenarnya seorang intelektual ada di mana-mana. Ciri yang sangat kental dari seorang intelektual yakni keberaniannya untuk melakukan klaim kebenaran. Meski dalam klaim itu semua masih berdialektika. Sehingga ketika membuat sebuah tulisan pun, tidak harus populer karena yang disuarakan seorang intelektual itu adalah kebenaran.
ewt

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…