Sabtu, 19 Desember 2009 16:01 WIB News Share :

Amien tetap minta Boediono dan Sri Mulyani dinonaktif


Yogyakarta-
-Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Amien Rais menghargai penolakan Presiden SBY untuk menolak imbauan pansus agar Boediono dan Sri Mulyani nonaktif. Namun menurut dia secara moral keduanya lebih baik nonaktif lebih dulu.

Hal itu diungkapkan oleh Amien Rais seusai menghadiri peringatan Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM) ke 60 di Grha Sabha Pramana (GSP) di Bulaksumur, Yogyakarta, Sabtu (19/12).

“Penolakan Presiden SBY untuk tidak menonaktifkan itu ada dasarnya. Itu harus kita hargai dan harus jadi rujukan penting,” ungkap Amien.

Namun Amien mempunyai pendapat lain. Penyelesaian kasus Century tidak bisa hanyacberdasarkan undang-undang dan hukum saja. Amien kemudian mengutip sebuah pernyataan, ‘there is no law without moral, there is no moral without religion’.

“Jadi saya kira imbauan pansus itu lebih pada moral. Moral itu lebih tinggi daripada hukum,” kata Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM itu.

Amien menegaskan sebaiknya Boediono dan Sri Mulyani itu non aktif lebih dulu. Setelah ada proses hukum dan terbukti tidak bersalah, kemudian bisa kembali ke jabatan semula.

“Ini pendapat saya. Ini masuk akal bila nonaktif dulu. Harus dingat di atas hukum masih ada moral. Tidak ada moral tanpa dasar agama,” katanya.

Amien menilai dalam pemerintahan SBY itu ibarat ada dua bisul besar, yang bila terus didiamkan akan semakin membesar. Namun bila bisul itu dipecah perlahan-lahan, nanti demam di pemerintahan akan mereda dan dingin kembali.

“Saya yakin itu, tapi ini dilemanya sehingga perhitungannya harus tepat. Maaf, dua bisul ini harus dipelotot (dipecah) secara transparan, elegan,” katanya.

Dia berharap kasus Century jadi terbuka. Yang perlu dihukum mendapat hukuman yang wajar. Yang perlu rehabilitasi, nama baiknya dikembalikan dan roda pemerintahan berjalan lagi.

“Namun bila tuntutan dari pansus yang diamini publik itu tidak dikerjakan pemerintahan kita, maka saya khawatir pemerintahan kita semakin hari semakin chaos dan kehilangan keabsahannya,” jelas dia.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…